“Ivanka!” Suara berat itu membuat Ivanka langsung membuka mata. “Rival?” Ivanka sedikit memicingkan mata, ketika melihat siluet Rival yang tiba-tiba ada di depannya. “Itu kamu?” “Astaga, Ivanka.” Rival mengetuk meja Ivanka dua kali. “Apa yang terjadi? Kamu minum terlalu banyak, dan ini masih di kantor, Ivanka.” Mulut Ivanka sedikit terbuka. Wajah Rival belum sempurna di penglihatannya. Memang setelah keluar dari ruangan Byakta, Ivanka minum hampir satu botol bir sendirian. Niatnya hanya untuk melupakan kalimat kasar yang tadi ia ucapkan pada Byakta, tapi berujung ketiduran saking mabuknya. “Hah!” Suara Ivanka yang sangat nyaring membuat Rival berkedip. “Kamu bicara apa Rival? Bicara yang benar, jangan buat telingaku gatal.” Baru saja Rival hendak menyentil kening Ivanka, Byakta masuk dan menarik tangannya. “Pergi,” titahnya. Rival hanya menunduk, kemudian pergi dengan sedikit berlari. Dia bahkan sempat menutup semua tirai yang ada di ruangan Ivanka dan membiarkan
Read more