Home / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 62. Pemutus Kontrak

Share

62. Pemutus Kontrak

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-03-27 12:07:09

Ivanka berdiri bersandar di sebuah pohon mangga tepat di belakang Obsidian Central. Dari sana dia bisa melihat kamar Byakta yang berada di lantai paling atas. Wanita itu tersenyum pilu. Sebentar lagi dia akan menemui Byakta sesuai janjinya kemarin.

“Aku harap… kamu bisa mengerti dengan keputusan yang aku ambil sekarang.”

Ivanka kembali menarik napas kasar, membetulkan rambut dan juga bajunya, lalu berjalan dengan langkah yang cukup cepat.

Tanpa dia sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   68. Bagaspati

    Ivanka langsung menoleh. Matanya menyipit. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan pria tua itu. Dengan gerakan sebelah tangan, Bagaspati meminta anak buahnya untuk membersihkan semua kekacauan yang dilakukan oleh putranya. Alih-alih menatap Byakta yang sudah ketakutan, Bagaspati justru menatap Rival. Pria itu sudah berdiri dengan wajah tertunduk. “Aku memintamu untuk menjaganya,” katanya dengan suara berat. “Menjaga supaya dia tidak melakukan kekacauan. Tapi lihatlah… lihatlah apa yang sudah kalian lakukan. Dua nyawa sudah melayang karena keteledoran kalian.” “Maaf, Tuan. Akan saya bereskan.” Ivanka mengernyit. Dia tidak pernah melihat Rival sepatuh ini. Bahkan di depan Byakta saja, dia masih bisa mengangkat wajahnya. Tapi di depan Bagaspati, dia seperti sudah kehilangan separuh dari nyawanya. Padahal pria tua itu belum melakukan apa-apa.

  • Obsesi Sang Penguasa   67. Kematian Rendra

    “Biar aku yang melakukannya, Bos.” Rival hendak merebut pistol dari tangan Byakta. Namun pria itu segera menepisnya dengan gerakan kasar. Dia menatap Rival dengan sorot yang sangat tajam. Seolah mengatakan jangan pernah ikut campur, dan hanya dia yang boleh menghukum orang yang menyakiti Ivanka. Sedangkan Ivanka, wanita itu masih berdiri di samping Byakta dengan tangan yang masih memegangi sebelah pipinya. Air matanya sudah tidak bisa lagi ditahan. Dia bahkan sudah tidak peduli kalau Byakta benar-benar menembak Rendra saat ini. “Apa ucapan terakhirmu, Rendra?” tanya Byakta dingin. “Aku akan mengabulkan satu permintaan terakhirmu, sekalipun itu adalah kematian kita berdua.” Tepat ketika kalimat Byakta melangit, ruang kontrol terasa semakin sempit. Pasokan oksigen di ruang itu sudah tidak bisa mencukupi paru-paru keempat manusia dewasa yang ada di sana. Tangan Rendra terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Darah s

  • Obsesi Sang Penguasa   66. Deretan Kode Yang Mengubah Hidupnya

    Namun Byakta menepisnya pelan. “Aku masih bisa berdiri.” Dia kembali menatap Rendra. Kali ini dengan tatapan yang jauh lebih tajam. “Kalau semua ini benar,” ucapnya pelan, “kenapa kamu tidak bilang dari awal? Kamu sudah terlalu jauh, Rendra. Untuk apa kamu melakukan semua ini? Untuk melawan Black Raven? Untuk menyusup ke markas Arkanza? Ini… ini terlalu jauh, Rendra.” Rendra tersenyum tipis. Dia menatap penyesalan di wajah Byakta tak percaya. Rasa kecewanya lebih besar, dibanding rasa takut yang ia tahan. “Karena kamu tidak akan percaya, Byakta. Kamu bahkan hanya menerima semua rasa sakit ini. Berusaha mengubur masa lalu itu dalam file server ini. Kamu pikir itu bisa menyelesaikan masalah? Kamu pikir organisasi gila itu akan berhenti?” Rendra menepuk pipi Byakta yang sudah berkeringat. “Tidak akan semudah itu, Byakta. Mereka tidak akan menyerah. Bukti

  • Obsesi Sang Penguasa   65. Hubungan Yang Sulit Diakhiri

    Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi. “Apa dia memang mempermainkanku,” gumam Ivanka pelan. Matanya turun, ketika ponselnya kembali bergetar. Itu adalah notifikasi dari sang ayah. Semenjak dia memberi tahu akan kembali karena kontrak sudah selesai, ayahnya berubah menjadi seorang wartawan yang terus saja bertanya. ‘Kamu yakin akan menjauh dari kekuasaan mereka.’ Itu adalah pesan yang baru saja dikirim oleh Kaveri. Ivanka tidak lagi menjawab. Pria tua itu sudah hampir sepuluh kali bertanya hal yang sama. “Lebih cepat, Pak, saya sudah lelah.” Kalimat itu membuat Pak Sopir mengangguk patuh, lalu kembali memacu gasnya. Ponsel Ivanka kembali berbunyi. Namun kali ini bukan datang dari notifikasi. Melainkan suara alarm. Di

  • Obsesi Sang Penguasa   64. Keterkaitan

    “Sial!” umpat Ivanka dengan tangan yang masih sibuk menata barang-barangnya. Dia sesekali berhenti, lalu mendengus, dan melanjutkan kegiatannya lagi. Jemarinya bergerak lebih kasar dari biasanya. Ritsleting tas ditarik terlalu keras, sampai hampir macet. Rahangnya mengeras. Nama Byakta dan senyum terakhirnya terus berputar di kepalanya. “Hih!” Ivanka mengacak rambutnya setiap kali dia mengingat kebodohannya. Hampir saja masuk ke kandang singa hanya untuk menyelamatkan anak anjing. “Aku berjanji, akan membencimu seumur hidupku. Dasar Byakta bodoh!” Dia melirik ponselnya. Taxi yang dia pesan, rupanya lebih cepat datang dari perkiraanya. Agak lega, karena akhirnya dia akan benar-benar pergi dari tempat terkutuk ini, dan kembali hidup normal seperti dulu. “Selamat tinggal tempat sialan!” Taxi berhenti tepat di depan gerbang. Ivanka tidak langsung mas

  • Obsesi Sang Penguasa   63. Pengorbanan Tak Terlihat

    Byakta sedikit menegakkan tubuhnya. Dia menatap Ivanka dengan tatapan yang tidak lagi dingin. Tatapan itu seolah mengatakan kalau ini adalah salam perpisahan terbaik yang sudah dia persiapkan untuknya. “Tepat ketika kontrak ini berakhir, kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan ku ataupun Black Raven,” katanya. “Kamu bisa bebas menikmati hidupmu seperti semula. Dan aku juga sudah menyiapkan uang untuk melunasi semua hutang perusahaanmu. Jadi tenang saja, kamu tidak akan lagi kesulitan.” Ivanka masih belum menjawab. Dia tidak berpikir kalau Byakta akan menendangnya dengan cara ini sekarang. Dengan emosi yang berusaha ia stabilkan, Ivanka membalas tatapan Byakta. “Jadi ini caramu menyingkirkanku?” Nada suaranya mulai berubah. Ada getaran halus yang tidak bisa disembunyikan lagi. Byakta terkekeh ringan. Dia menyingkap selimutnya perlahan. “Aku hanya melindungimu, Ivanka,” ujarnya. “Melindun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status