“Serius, Yah! Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa, kok! Ayo cepetan jalan! Aku capek mau istirahat!”Ayah berhenti menatapku, dia mulai melajukan mobilnya. Entah kenapa, ada perasaan lega ketika Ayah tidak lagi menatapku seperti itu.Aneh, aku seperti bukan melihat sosok ayahku barusan. Namun, aku menggelengkan kepalaku kuat. Mungkin karena lelah, aku jadi berpikiran aneh semacam ini.“Ayah harap di kampus kamu baik-baik saja. Kamu juga kalau mengerjakan apa pun, harus lebih berhati-hati.”“Iya, Yah, aku pasti ingat, kok, pesan Ayah!” sahutku.Jujur, aku tidak ingin mencampur adukkan masalahku di kampus dengan Ayah. Jelas kami berbeda. Aku tahu, setiap manusia pasti akan diberi ujian masing-masing, dan inilah ujianku, menghadapi Mawar dan circle pembully.Tidak berselang lama, akhirnya kami telah sampai di depan rumah. Lekas aku turun, dan mulai memasuki rumah.“Elia, kamu sudah pulang, Sayang? Ya Tuhan … Elia, wajah kamu kenapa, Nak?” Ibu berjalan mendekatiku. Namun, aku menghindar.
続きを読む