LOGINAku menoleh ke asal sumber suara. Di sana, di ambang pintu, kulihat Dean berdiri dengan tatapan tajam kepada orang-orang yang hendak menikahkanku dengan Pak Dirja secara paksa.“Dean!” gumamku.Dean berjalan menghampiriku. Kami semua berdiri, lantas Dean berdiri menghadapi mereka di depanku. Aku hanya menunduk di belakang tubuhnya. Menunggu apa yang akan terjadi setelah Dean datang.“Jadi kamu suami Sophia?” tanya Bu Neli.“Ya! Sudah lama saya mencari Sophia. Kami sempat terpisah karena suatu hal, dan sesuai petunjuk yang saya dapatkan, ternyata dia ada di sini,” jelas Dean.“Tapi Sophia berbuat tidak senonoh sama Pak Dirja. Sebagai suaminya, apakah kamu akan membiarkan masalah ini tanpa adanya pertanggung jawaban dari dua belah pihak? Kami yang tinggal di kampung ini, tidak rela jika kami mendapatkan sialnya karena perbuatan mereka.” Bu Neli seolah tidak puas. Memang, dari rautnya, nada bicara, dia terlihat tidak menyukai keberadaanku di sini. Entah masalahnya apa. Yang jelas, masala
Aku membeliak tak percaya. Mereka begitu nekat ingin menikahkanku dengan Pak Dirja. Di mana hati mereka?“Maaf, Ibu-ibu, Bapak-bapak, saya sudah bersuami, saya tidak mungkin menikah dengan Pak Dirja. Apalagi beliau sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri. Kenapa kalian harus memaksa?” sergahku.Kulihat Pak Dirja menghubungi seseorang melalui ponselnya. Aku tidak tahu dia menghubungi siapa, aku tidak bisa mendengarnya karena riuh suara tetangga yang menggema.“Jangan banyak alasan, Sophia. Kalau memang kamu sudah bersuami, mana suami kamu? Perlihatkan pada kami? Terus ngapain kamu terus tinggal di sini? Jangan pikir kamu bisa membodohi kami. Jangan harap kamu bisa menghindar dari niat kami. Pokoknya malam ini juga kalian akan kami nikahkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kalian berdua harus siap!”Aku mengusap wajahku dengan kasar. Frustrasi dengan keadaan seperti ini.“Tidak! Saya tidak mau, saya masih punya suami, saya berani bersumpah. Tolong hargai saya, jangan memaksa seperti
“Jangan pergi, ya, aku mohon!” pinta Randi. Suaranya lirih.Anak itu menggenggam tanganku begitu erat. Membuatku dilema dalam situasi ini.“Iya, Sophia. Jangan dulu pergi. Kasih kami waktu untuk untuk benar-benar siap melepasmu pulang. Tapi tidak sekarang, karena jujur untuk saat ini kami belum siap. Adanya kamu di sini, Randi memperlihatkan perkembangan baik. Dia ceria, semangat untuk kembali sembuh. Sangat berbeda saat sebelum kamu hadir di sini. Randi selalu murung, bahkan untuk makan saja saya sering kesulitan untuk membujuknya,” timpal Pak Dirja.Aku menunduk dalam diam. Posisiku di rumah ini serba salah. Seandainya aku tetap di sini, mereka pasti akan selalu menggunjingku, mendesakku untuk menikah dengan Pak Dirja. Namun, jika aku pergi, bagaimana dengan Randi?“Jangan pergi, ya! Aku mohon!” Randi kembali bersuara.Aku menghela napas dalam, sebelum akhirnya aku mengangguk, menyetujui permintaannya.“Sampai kamu sembuh, Bibi akan tetap di sini,” ucapku akhirnya.Randi beringsut,
“Ulat kecil di rambutmu!” Aku membeliak.“Ulat? Cepat singkirkan, Pak. Geli, ih aku jadi gatal!” Aku tidak berani bergerak, hanya meracau tak jelas karena ketakutan.Pak Dirja mengambil ulat bulu itu dan membuangnya ke dalam tong sampah.Sugesti yang kuat, mendengar kata ulat bulu, sekujur tubuhku merinding. Aku menggaruk-garuk kulitku hingga kemerahan.“Di sini masih banyak pepohonan, jadi tidak aneh jika ada ulat,” ucap Pak Dirja.“Sebaiknya kamu ganti baju, takutnya bulu ulah itu ada yang menempel di baju kamu. Sebentar!” Pak Dirja berlalu ke dalam kamar.Tidak berselang lama, lelaki tua itu kembali dengan satu stel pakaian wanita di sebelah tangannya.“Ini baju anak saya, sepertinya muat di kamu. Pakai saja tidak apa-apa,” sambungnya.Cepat-cepat aku menerimanya lantas membawanya ke dalam kamar mandi.“Terima kasih, Pak. Bajunya muat di badan saya,” ucapku.“Iya! Em … Sophia, sudah jam delapan, saya harus pergi belanja untuk kebutuhan jualan besok. Saya titip Randi lagi, ya! Saya
“Bibi kenapa bengong?” tanya Randi, yang berhasil menyadarkanku dari lamunan.“Ah iya, Bibi tidak apa-apa, Sayang. Sekarang habiskan sarapannya, ya!” sahutku.Tidak berselang lama Pak Dirja kembali. Dia mulai memasak tulang yang dia potong tadi.“Em … Bapak jualan?” tanyaku.Di dapur, sambil mencuci piring bekas Randi makan, Pak Dirja tengah sibuk membuat bumbu sup.“Iya, saya jualan sup di sini,” jawabnya.“Apakah boleh saya bantu Bapak jualan?” tanyaku.“Saya tidak mampu membayar karyawan. Jadi saya selalu kerjakan semua sendiri. Saya harus menabung untuk pengobatan Randi.”“Em … maaf, Pak. Tapi saya butuh uang untuk ongkos saya pulang. Saya tidak mungkin terus menerus merepotkan Bapak di sini. Saya–”“Sudah saya bilang, saya belum punya uang untuk ongkosmu. Untuk sementara kamu tinggal saja di sini, sampai uang saya terkumpul. Baru nanti kamu boleh pulang,” potongnya.Aku menghembuskan napas kasar. Kuanggukan kepala ini pelan.Mungkin aku harus bersabar dulu. Bisa saja aku menghubu
Mendengar pertanyaanku, gerakan orang itu seketika terhenti. Suasana yang awalnya terdengar gaduh, kini berubah hening.Perlahan orang itu menoleh ke arahku. Mulutnya sibuk memainkan batang korek api. Dia adalah lelaki tua.“Sudah bangun? Saya Pak Dirja,” jawabnya.Orang yang bernama Pak Dirja itu kembali sibuk dengan tulang-tulang besar yang hendak ia potong. Perlahan aku mendekatinya, duduk di hadapannya sambil memperhatikan gerak tangan yang sibuk memotong benda keras berwarna putih serta cuilan-cuilan daging yang masih menempel tersebut.“Kenapa saya bisa ada di sini?” tanyaku.Gerakan Pak Dirja kembali berhenti.“Semalam kamu nyaris dibuang oleh dua orang di jurang di tepi jalan!” jawabnya.Aku mengernyitkan dahiku. Aku tidak paham.“Maksudnya, Pak? Dibuang? Siapa yang mau membuangku?” tanyaku.Pak Dirja kembali memotong tulang-tulang itu. Suasana kembali gaduh.“Saya tidak tahu, kemungkinan perampok. Kamu cek saja, apakah ada barangmu yang hilang? Saya hanya kebetulan lewat sa







