Menyadari kedatanganku, Tristan beranjak dari kursi kerjanya lalu berjalan mendekatiku. Dari raut wajahnya, dia terlihat begitu santai, tak ada rasa bersalah sedikit pun. Yeah! Tristan sialan!“Hai, Sayang! Aku pikir kamu tidak akan datang ke sini!” sapa Tristan.Aku bergeming, mataku terus tertuju pada wanita penggoda itu. Stella, wanita penghuni baru kontrakan bekasku tersebut, dia turun dari meja Tristan.“Jadi ini alasan sekuriti di sini, tidak mempercayaiku bahwa aku istrimu?” tanyaku.Tristan mengernyitkan dahi, terlihat bingung dengan perkataanku.“Maksudmu?” tanya Tristan.Aku tidak menjawab, dadaku terasa sesak.“Jawab aku dengan jujur, Tristan. Sejak kapan wanita itu datang ke sini? Kenapa dia tahu alamat kantor ini? Apakah selama ini, dia selalu datang ke sini?” tanyaku.“Ya! Hampir setiap hari,” jawabnya.“Dia yang mencari tahu sendiri alamat kantor ini,” imbuhnya.Bahkan kejujuran yang Tristan lontarkan itu, semakin membuatku sakit. Ternyata benar, jujur itu bagus. Namun,
Last Updated : 2026-04-05 Read more