LOGINMenyadari kedatanganku, Tristan beranjak dari kursi kerjanya lalu berjalan mendekatiku. Dari raut wajahnya, dia terlihat begitu santai, tak ada rasa bersalah sedikit pun. Yeah! Tristan sialan!“Hai, Sayang! Aku pikir kamu tidak akan datang ke sini!” sapa Tristan.Aku bergeming, mataku terus tertuju pada wanita penggoda itu. Stella, wanita penghuni baru kontrakan bekasku tersebut, dia turun dari meja Tristan.“Jadi ini alasan sekuriti di sini, tidak mempercayaiku bahwa aku istrimu?” tanyaku.Tristan mengernyitkan dahi, terlihat bingung dengan perkataanku.“Maksudmu?” tanya Tristan.Aku tidak menjawab, dadaku terasa sesak.“Jawab aku dengan jujur, Tristan. Sejak kapan wanita itu datang ke sini? Kenapa dia tahu alamat kantor ini? Apakah selama ini, dia selalu datang ke sini?” tanyaku.“Ya! Hampir setiap hari,” jawabnya.“Dia yang mencari tahu sendiri alamat kantor ini,” imbuhnya.Bahkan kejujuran yang Tristan lontarkan itu, semakin membuatku sakit. Ternyata benar, jujur itu bagus. Namun,
“Kenapa aku ada di sofa?” gumamku. Aku terduduk.Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Padahal sebelumnya aku ingat, aku tidur di atas ranjang. Namun, kenapa bisa aku berpindah di sofa?“Apa Tristan yang melakukan ini? Tapi di mana dia sekarang?”Cukup lama terduduk aku merasa ada sesuatu yang harus aku keluarkan. Aku ingin buang air kecil, bergegas aku berdiri hendak masuk ke dalam kamar mandi.Setelah menyelesaikan urusanku, aku pun keluar dari kamar mandi, hendak melanjutkan tidurku.Ceklek!Pintu kamar terbuka lebar, di sana, Tristan masuk sembari membawa tas berisi laptop di sebelah tangannya.“Loh, belum tidur?” tanyanya, seraya menyimpan tas berisi laptop tersebut di atas meja.“Aku sudah tidur, tapi terbangun gara-gara aku merasa ada guncangan. Tapi saat aku bangun, ternyata aku tidur di sofa, padahal sebelumnya aku tidur di ranjang!” jelasku.Tristan mendekatiku, membawaku duduk di atas ranjang.“Mungkin kamu mengigau. Pasti kamu capek. Ayo lanjutkan lagi tidurnya!” ajakny
“Siapa yang menelepon?” tanya Tristan.Aku kelabakan, bingung, apa yang mesti aku jawab? Tidak mungkin aku jujur jika orang yang menghubungiku adalah dari pihak kepolisian.“Em … Ibu yang menelpon. Tadi aku mengirim pesan padanya, menanyakan tentang urusan wanita. Aku … angkat dulu, ya!” jawabku.“Ya sudah angkat saja!” Tristan berdiam, tak sedikit pun beralih dari hadapanku.“Kenapa kamu masih berdiri di sini?” tanyaku.Tristan mengernyitkan dahinya.“Kenapa? Apakah aku tidak boleh melihatmu mengobrol bersama Ibu di telepon?” tanyanya.Aku memalingkan wajah ke arah lain. Berusaha menyembunyikan rasa gugupku. “Em … bukan begitu. Maksudku … aku malu kalau kamu dengar percakapan kami. Seperti yang aku bilang tadi, ini urusan wanita. Lelaki tidak boleh tahu,” jawabku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.Tristan terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan sambil menggaruk pelipisnya.“Oh oke-oke. Maaf aku tidak peka. Ya sudah, aku duluan masuk, ya! Jangan lama-lama di luar, ini sudah ma
Aku tersentak mendengar ucapan Remon. Seketika aku merasa gelisah, apakah aku harus menuruti permintaannya?“Kenapa kamu ke sini? Aku tidak mungkin membatalkan niat awalku. Dengar, ini soal keadilan untuk Shana. Shana adalah keluargaku. Aku tidak ingin kematian Shana meninggalkan misteri. Aku ingin mengusut tuntas tentang kematiannya,” jelasku. Sengaja kupelankan suaraku.“Iya, aku tahu niatmu. Aku tanya sekarang sama kamu. Apakah kamu sudah menemukan sesuatu? Apakah kamu sudah bisa membuktikan jika Shana dibunuh, dan pembunuhnya adalah Tristan? Apakah kamu sudah memiliki bukti kuat? Jawab, Sop. Apakah kamu sudah yakin jika kamu akan berhasil?” tanya Remon.Aku bergeming, menunduk dalam diam. Hanya napas yang terhembus.“Kenapa diam?” tanya Remon.“Ya! Aku sudah mendapatkan bukti dan aku sudah melakukan tindakan. Aku tidak akan keluar dari rumah ini tanpa hasil. Jadi, please, jangan membuat aku berada di dalam situasi bahaya. Dengan adanya kamu di sini, itu sama saja kamu sedang meman
“Hai, Sayang! Ke sini!” seru Tristan. Dia melambaikan tangan ke arahku.Lelaki itu tengah berdiri bersama dua orang asing berseragam. Satu wanita muda, cantik, berpenampilan menarik dan seksi, dan satu lelaki yang terlihat sudah berumur.“Ada apa?” tanyaku, aku mendekati mereka.“Hei! Kamu lupa tadi pagi kamu pesan apa? Lihat di sana!” tunjuk Tristan ke arah garasi.Aku melirik ke arah yang ditunjuk. Satu unit motor keluaran terbaru terparkir rapi di garasi.“Itu … motorku?” Bahkan aku sempat lupa jika aku memesan kendaraan tersebut.Aku tidak antusias menyambut kendaraan itu. Tadi pagi aku hanya bertujuan membuat Tristan sibuk dengan keinginan palsuku, saat dia lengah, aku sibuk melaporkannya ke polisi.“Kamu … tidak senang?” tanyanya.“Tidak! Maksud aku … aku sangat senang. Motornya bagus sekali. Terima kasih, Tristan,” jawabku.“Baiklah! Aku senang kamu suka sama motornya. Nanti kamu coba, ya!” serunya.Setelah kedua orang itu telah berpamitan. Aku tak langsung mencoba motornya. Ak
“Aku ingin anak darimu!” bisik Tristan.Aku membeliak, refleks aku menarik diri. Menciptakan jarak. Aku memalingkan wajahku ke arah jendela yang sengaja sedikit kubuka.“Kenapa?” tanya Tristan.“Aku … aku hanya lelah, ingin segera sampai dan istirahat,” jawabku berdalih.Jujur aku belum siap memiliki anak. Aku masih penasaran tentang Tristan siapa, sikap aslinya bagaimana, apakah dia pelaku pembunuh semua istrinya atau bukan? Aku tidak ingin gegabah dalam mengambil suatu keputusan.“Baiklah!” sahutnya.Tristan kembali melajukan mobil ini, hingga kami telah sampai di depan rumah.Di setiap gerakku, aku merasa selalu di awasi. Namun, ketika kulirik ke arah Tristan, dia tampak biasa saja. Cepat-cepat kugelengkan kepalaku. Sepertinya akibat terlalu memikirkan Remon, pikiranku menjadi kacau.“Cukup, jangan memikirkan lelaki lain. Aku tidak suka!” celetuk Tristan.Sial! Dia seolah tahu isi pikiranku. Jika seperti ini, bagaimana mungkin aku melancarkan rencanaku, jika Tristan selalu tahu apa







