“Sophia! Ini kan sudah malam … jangan pergi ya, Nak! Di sini dulu bersama kami. Begini saja, kamu hubungi saja Tristan lewat telpon, tanya apa masalahnya.”Di saat aku telah kembali membereskan pakaianku ke dalam tas, Ayah tiba-tiba mencegahku pergi.“Tapi, Yah! Aku takut terjadi apa-apa padanya. Dia suamiku, aku harus ada di sampingnya di setiap senang dan masalah. Aku harus menjadi orang nomor satu, yang membuatnya tenang,” sahutku.Ibu mengusap lengan Ayah.“Yah! Benar kata Sophia! Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban Sophia menemani suaminya. Kita tidak bisa memaksa Sophia untuk tinggal di sini. Lagi pula, kapan-kapan Sophia bisa pulang lagi ke sini!” timpal Ibu.Ayah menggeleng pelan, ia terduduk di kursi tua.“Tapi, Bu. Perasaanku tidak enak jika Sophia pergi. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?”“Ayah! Ayah dengar, dengarkan aku, Yah! Semua akan baik-baik saja. Tristan bukan penjahat, dia bukan orang lain, dan aku aman bersamanya. Ayah percaya, kan, sama suamiku?”Ayah men
Last Updated : 2026-04-10 Read more