Dengungan suara mesin jet pribadi terdengar halus, bahkan nyaris seperti bisikan yang menenangkan di tengah gejolak yang dirasakan oleh Livia. Di dalam kabin mewah yang dilapisi emas putih dan kayu eboni yang langka, Livia termangu. Ia membuang pandangannya ke luar jendela. Hamparan awan yang semula hitam, beralih menjadi cahaya orange yang dingin. Di kabin belakang, tim medis terbaik dan disiagakan dari Norvastia sedang menangani luka-luka yang diperoleh Rayyan dengan peralatan medis yang lebih canggih, melampaui standar semua rumah sakit di Sentara."*Vora ni Kash,* Livia. Istirahatlah dulu. Dirimu sudah banyak menanggung beban selama lima tahun terakhir ini."Suara berat dan berwibawa itu berhasil memecah lamunan Livia. Ia sedikit terkejut, memfokuskan pandangannya pada pria paru baya yang sudah melepas jubah hitamnya. Hanya menyisakan kemeja sutra berwarna gelap yang melekat di tubuh tegapnya."*Vora ni Kash*" adalah ungkapan bahasa ibu Livia, *Lingua Norva*, yang hanya diucapkan
Read more