Awan hitam yang menggantung rendah di atas pelabuhan tiba-tiba meluruh, bukan sebagai hujan, melainkan sebagai gumpalan uap dingin yang sangat pekat. Kaelen menghantamkan trisulanya ke lantai marmer yang retak, melepaskan sihir “Napas Leviathan”.Dalam hitungan detik, kabut laut yang berwarna kelabu kebiruan menelan seluruh pelataran istana, menghapus jarak pandang hingga nol. Kabut ini bukan uap air biasa; ia mengandung partikel sihir yang mengacaukan radar sensorik dan penciuman tajam para raja binatang.“Lin Xiao! Tetap di tempatmu!” raung suara Cang Yan, namun suaranya terdengar sangat jauh, seolah terhalang oleh dinding air yang tebal.Lin Xiao mencoba menggapai tangan Bai Ze yang tadi berada hanya beberapa senti darinya, namun jemarinya hanya menangkap udara dingin yang basah.Ia berputar, mencoba memanggil nama Lu En, tetapi sunyi yang mencekam menyergapnya. Kabut itu mengisolasi suaranya, membiaskan setiap teriakan hingga hanya menjadi gema yang membingungkan.[PERINGATAN: GAN
آخر تحديث : 2026-04-03 اقرأ المزيد