"Mencari tempat yang bagus untuk mati kedinginan setelah kau gagal di pelabuhan tadi sore, De Solis?" Sarkasme Kaelan memecah keheningan malam. Roselina tidak langsung menjawab. Alih-alih marah, gadis itu justru menarik jubah kebesaran Kaelan yang kebesaran di bahunya agar lebih rapat, menyesap kehangatan aroma pinus yang tertinggal di sana. Roselina menoleh, menatap sang Tiran dengan keberanian yang sering kali melewati batas kewarasan. "Jika saya ingin mati, saya tidak akan bersusah payah merangkak keluar dari tumpukan kayu pelabuhan sore tadi," jawab Roselina tenang. Matanya kemudian kembali menatap permukaan Danau Kristal yang memantulkan cahaya bulan. Angin malam berhembus, membawa keheningan di antara mereka. Jenderal Orca yang berdiri mengawal beberapa meter di belakang Kaelan hanya diam tak bersuara, layaknya patung perak pelindung sang Raja. "Yang Mulia," panggil Roselina pelan, memecah sepi. "Boleh saya bertanya satu hal?" Kaelan hanya melirik gadis itu dari sudu
Read more