Di dalam laboratorium The Sanctuary, Tabib Betrix menatap Elias dengan kening berkerut. Tangannya secara refleks menutupi perkamen laporan darurat itu. "Maafkan saya, Tuan Elias," tolak Tabib Betrix dengan nada tegas dan menjunjung tinggi protokol. "Ini adalah dokumen tingkat bahaya tertinggi. Laporan ini tidak boleh berpindah tangan kepada siapa pun selain tabib istana yang mengantarkannya langsung ke hadapan Yang Mulia Raja." Mendengar penolakan mutlak itu, Elias sama sekali tidak memaksakan diri. Sebagai pria yang pandai membaca situasi, ia tahu jika ia memaksa, kedoknya akan hancur malam ini juga. Elias mengukir senyum ramah yang penuh pengertian, lalu mundur selangkah. "Ah, tentu saja. Saya sangat mengerti, Tabib Betrix," ucap Elias dengan nada menyesal yang dibuat-buat. "Maafkan kelancangan saya. Silakan lanjutkan tugas mulia kalian, saya akan kembali ke kamar." Tepat saat Elias hendak berbalik, pintu ruangan bagian dalam terbuka. Tabib Caspian, sang Kepala Tabib, mela
Read more