Udara di dalam ruangan The Sanctuary mendadak terasa membeku oleh pertanyaan tajam Kaelan. Tatapan sang Tiran menyapu setiap sudut, mencari kebohongan. Namun, alih-alih panik atau tersinggung, Tabib Caspian justru tertawa pelan. Tawa pria tua itu terdengar sangat tulus, kebapakan, dan menenangkan. "Jika pengkhianat itu adalah saya, Yang Mulia..." ucap Tabib Caspian lembut, menuangkan teh hangat ke cangkir Kaelan yang mulai mendingin. "...maka saya sudah membiarkan kutukan itu menelan Anda hidup-hidup tiga ratus tahun yang lalu saat Anda pertama kali mengalami demam es." Kaelan tertegun. Hawa dingin yang menguar dari tubuhnya perlahan memudar. "Saya masih ingat betul malam itu, Yang Mulia," lanjut Caspian, matanya menerawang dengan senyum teduh. "Anda masih sangat muda, menggigil di sudut kamar, menahan rasa sakit karena kekuatan Varka Anda menolak kutukan itu. Jika saya mengincar Jantung Samudera, saya hanya perlu membiarkan Anda mati malam itu, dan Ocean akan kehilangan rajan
Read more