"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Ramuan apa?" Suara Roselina terdengar stabil, meski jantungnya berdegup gila di dalam dada. Ia menatap lurus ke arah Kaelan yang kini berdiri menjulang di dekat meja nakasnya. Tanpa melepaskan tatapan tajamnya, Kaelan mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan hijau pudar dari atas meja. Melihat benda itu, Roselina diam-diam menghembuskan napas lega yang tertahan di tenggorokannya. Syukurlah, Kaelan hanya menebak untuk memancingku. "Oh, botol itu," Roselina tersenyum tipis, merangkai kebohongan dengan sangat natural. "Itu adalah sisa ramuan pemulihan dari semalam, Yang Mulia. Saya tidak meminumnya karena merasa sudah jauh lebih baik, dan sejujurnya... saya sangat benci rasa pahit dari ramuan tabib." Kaelan terdiam sejenak. Mata safirnya menelisik wajah Roselina, mencari kebohongan, namun akhirnya ia meletakkan kembali botol itu ke atas meja. "Lalu, ada tujuan apa Anda sampai datang berkunjung kemari lagi, Yang Mulia?" tanya Roselina cepat, mencoba
Read more