"Jawab pertanyaanku, Roselina. Dari mana kau tahu soal Monster Pembunuh, dan bagaimana belatimu bisa ada di tangan Zepriyn?" Suara Kaelan sangat pelan, namun getaran es di dalamnya membuat suhu ruangan turun drastis. Jenderal Zepriyn seketika berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari mulut kakunya baru saja membawa bencana. "Hukum saya, Yang Mulia. Saya yang—" "Diam, Zepriyn. Aku tidak bertanya padamu," potong Kaelan tanpa menoleh dari Roselina. Roselina meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan tenang. Ia berdiri, merapikan gaunnya, lalu menatap lurus ke dalam mata safir Kaelan yang berkilat marah. "Saya pergi ke Hutan Kematian semalam, Yang Mulia. Saya turun langsung ke lokasi penyergapan," jawab Roselina jujur, tanpa nada penyesalan sedikit pun. Rahang Kaelan mengeras hingga urat lehernya menonjol. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha mati-matian menahan monster es di dalam dirinya agar tidak menghancurkan seisi ruangan. "Keluar." Perintah Ka
Read more