"Duduklah, Roselina. Aku tidak menerima penolakan untuk jamuan makan siang ini." Roselina menghela napas pendek, menatap kursi yang sudah ditarik oleh pelayan atas perintah Kaelan. Ia melirik ke arah pintu, membayangkan Celia yang pasti sudah menyiapkan hidangan hangat di paviliunnya. "Saya sudah berjanji pada Celia untuk makan di paviliun, Yang Mulia," tolak Roselina halus, meskipun ia tahu itu sia-sia. Kaelan hanya mengangkat sebelah alisnya, sorot matanya yang dingin namun posesif itu mengunci pergerakan Roselina. "Pelayanmu bisa memakan masakan itu sendiri. Kau adalah penasihatku, dan aku ingin kau ada di sini." Roselina akhirnya menyerah dan duduk. Namun, ia menyadari bahwa mereka tidak berdua. Di seberang meja, Lady Calyspho sudah duduk dengan tegak, mengenakan gaun sutra berwarna biru safir yang senada dengan warna mata Kaelan. "Senang melihatmu bergabung, Nyonya Penasihat," sapa Calyspho dengan nada yang dipaksakan sopan, meskipun matanya berkilat penuh persaingan. "Teri
Read more