"Sepertinya kejadian yang diceritakan Nyonya Crolle memang benar adanya, Zepriyn." Suara Kaelan memecah keheningan perpustakaan yang temaram. Pria itu menatap laci rahasia yang kini kosong melompong dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Jika bukan ayahku yang membunuh ibunda," lanjut Kaelan dengan nada dingin, "maka hilangnya barang pribadi beliau di sini seolah menjadi bukti... ada seseorang di istana ini yang sangat ketakutan semua rahasianya terbongkar. Dia terus memantau pergerakan kita dan menunggu waktunya tiba." Zepriyn menggeram pelan, tangannya masih berada di gagang pedang. "Kita harus segera menyisir seluruh area paviliun ini, Yang Mulia. Jika barang itu dicuri belum lama ini—" "Jangan permasalahkan barang itu, Zepriyn," sela Kaelan tenang, mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan sang Jenderal. "Itu hanya barang pribadi peninggalan masa lalu, bukan bukti utama kita." Kaelan berbalik, melangkah menjauhi meja tersebut. "Peringatan Jenderal Valerius tempo hari
Read more