"Pastikan senjatamu diasah setajam mungkin untuk besok malam, Jenderal, Ishaq. Gelombang pasang di tebing itu tidak akan menunggu siapa pun." Suara berat Kaelan menutup perbincangan di meja makan malam itu. Rencana untuk menumpang pada kekuatan alam demi menghancurkan bubuk peledak musuh sudah matang. Kini, hanya tersisa piring-piring kosong dan sisa kehangatan dari sup daging yang baru saja mereka tandaskan. Roselina bangkit dari kursinya, merapikan gaun tidurnya yang sederhana. Gadis itu menatap Zepriyn dan Celia secara bergantian dengan senyum penuh arti. "Kaelan benar, kita butuh tenaga penuh untuk besok. Ayo kembali ke kamar, Kael," ajak Roselina lembut. Ia lalu menoleh pada bawahannya. "Ishaq, berjaga di posisimu. Dan Celia, tinggalkan saja piringnya jika kau sudah lelah." "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya akan membereskannya sekarang," jawab Celia kaku, sama sekali tidak menatap ke arah Zepriyn yang duduk tepat di seberangnya. Begitu Kaelan, Roselina, dan Ishaq meninggalkan ru
Read more