"Ikat sabuk jubahmu lebih kencang, De Solis. Badai malam ini tidak akan berbaik hati pada siapa pun." Perintah Kaelan menggema pelan memecah ketegangan di ruang tengah vila. Di luar sana, langit Meldin mengamuk. Deru angin kencang dan hujan lebat menghantam dinding kayu dengan brutal, persis seperti yang Roselina perhitungkan lewat kalender nelayan. Roselina mengangguk, menarik simpul sabuk kulitnya hingga pas di pinggang. Gadis itu mengenakan jubah hitam tebal yang senada dengan milik Kaelan dan Zepriyn, bersiap menelan diri mereka dalam kegelapan malam. "Ishaq, Celia," panggil Roselina, menoleh pada dua orang yang akan menetap. "Kunci seluruh akses dari dalam. Jika kami tidak kembali hingga fajar menyingsing, jangan mencoba menyusul. Pergi dari pelabuhan ini dan bawa laporan ke Ocean." "Kami mengerti, Nyonya. Kembalilah dengan selamat," jawab Ishaq mantap, sementara Celia menatap cemas ke arah punggung tegap Zepriyn. "Ayo bergerak. Pasang air laut tidak akan menunggu kita," pu
Read more