WUSSS! Angin segar perbatasan seketika menerpa wajah mereka. Kaelan, Roselina, Zepriyn, dan Felix akhirnya berhasil menembus keluar dari lorong tikus yang lembap itu. Sinar matahari senja menyambut pelarian mereka dari kegelapan. Mereka berempat serempak menjatuhkan diri ke atas rumput liar, meraup udara bersih rakus-rakus. Paru-paru mereka yang tadi nyaris hancur akibat gas beracun kini kembali mengembang dengan lega. "Hah... hah..." Roselina bertumpu pada kedua tangannya, keringat membasahi pelipisnya. Kaelan langsung bergeser mendekat, memeriksa lengan dan wajah gadis itu dengan raut panik yang jarang ia tunjukkan. "Kaelan, aku baik-baik saja," ucap Roselina dengan napas masih tersengal, menahan tangan besar pria itu. "Tidak perlu mengkhawatirkanku. Di mana kuda-kudanya? Ayo kita pergi sebelum es di lorong itu mencair." Zepriyn yang sudah berhasil menstabilkan napasnya segera bangkit, mencengkeram gagang pedang besarnya erat-erat. Jenderal raksasa itu menatap lurus ke arah m
Read more