“Kaelan Varka. Sampai kapan kau tertidur, jangan seperti ini, kita sudah membawa pulang pusaka istana mu. Kenapa sekarang kau malah tidur dengan tenang,” “Aku membenci mu Kaelan, bangun, aku mohon,” Suara deburan ombak yang menabrak lambung kapal memecah keheningan panjang. Malam perlahan berganti menjadi pagi yang dingin, namun kabin utama itu tetap terasa layaknya ruang duka yang senyap. Kapal terus berlayar membelah perairan, menempuh perjalanan yang akan memakan waktu seharian penuh. Diperkirakan, mereka baru akan bersandar di dermaga utama istana Ocean saat malam kembali turun. Roselina belum beranjak satu inci pun dari kursi kayunya di samping ranjang. Matanya merah dan membengkak. Di hadapannya, Kaelan terbaring tak berdaya. Tubuh besar sang Raja yang biasanya memancarkan aura gletser mematikan itu kini dibalut oleh perban tebal di bagian dada, bahu, dan pahanya. "Kaelan... kumohon, bangunlah." Suara Roselina bergetar parau. Gadis itu menggenggam erat telapak tangan Kaelan
Read more