Keesokan pagi nya… “Berhenti menatapku, De Solis," tegur Kaelan tanpa mengalihkan pandangan dari perkamennya. Roselina yang duduk di sofa seberang menghela napas. "Saya sedang menatap jendela, Yang Mulia." "Napasmu mengganggu konsentrasiku," balas Kaelan ketus. "Apakah saya harus berhenti bernapas?" Kaelan meletakkan pena bulunya dengan kasar. Ia menatap tajam gadis itu. "Jangan besar kepala. Aku memindahkan pekerjaanku ke sini bukan karena aku peduli padamu." Roselina mengangguk pelan. Ekspresinya datar tanpa emosi sedikit pun. "Saya mengerti, Yang Mulia." "Jika kau mati diracun oleh pengkhianat saat aku sibuk rapat di aula, aku yang akan repot," lanjut Kaelan mencari alasan. "Kau adalah penawar sementaraku. Menjagamu adalah langkah militer." "Tentu. Terima kasih atas penjagaan militernya," jawab Roselina sangat profesional. Jawaban yang kelewat pasrah itu membuat rahang Kaelan mengeras. Ia ingin Roselina marah, berdebat, atau setidaknya menunjukkan emosi takut. Sik
Read more