Reza terus menatap mata Nayla tak berkedip. Bola mata hitam yang jernih, wajahnya yang cantik, dan semua keindahan yang Nayla punya, membuat Reza benar-benar terpukau.Ia tak sadar, sudah berapa lama memeluk tubuh Nayla dalam keadaan seperti ini.“Dokter Reza?" panggil Nayla.“Ah iya." Reza langsung tersadar. Seolah baru tersengat listrik, ia segera melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah."Ma … maaf, Nay," ucapnya gugup. "Aku refleks."Nayla juga buru-buru merapikan posisi berdirinya. Jantungnya masih berdegup karena sempat hampir terjatuh."Nggak apa-apa, Dok. Justru aku yang harus bilang terima kasih. Kalau nggak ditangkap, mungkin aku sudah jatuh tersungkur ke lantai," ujarnya sambil tertawa kecil untuk mencairkan suasana.“Mmm, iya." Reza ikut tersenyum tipis, meski telinganya mulai memanas. "Lain kali hati-hati kalau jalan ya. Soalnya kamu suka melamun.""Iya, Dok. Tadi nggak lihat kaki sofa."Untungnya, sebelum suasana berubah semakin canggung, suara Sarah terdengar dari
Baca selengkapnya