Mag-log inSejak hari itu, hidup Nayla pun mulai berubah, setelah mengetahui dirinya adalah putri kandung Wiratmadja dan Marina. Perubahan itu terasa semakin nyata karena hampir setiap hari Marina datang membawa sesuatu untuknya. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, kosmetik, hingga berbagai kebutuhan kecil yang sebenarnya tidak pernah Nayla minta.“Ma, ini kebanyakan banget,” keluh Nayla ketika Marina kembali datang membawa beberapa paper bag.Marina justru tersenyum lebar. “Kebanyakan dari mana? Mama malah merasa masih kurang.”Nayla menghela napas sambil membuka salah satu kantong. Isinya sebuah tas bermerek yang harganya bahkan membuatnya enggan membayangkan nominalnya.“Aku nggak butuh barang semahal ini.”“Kamu nggak butuh, tapi Mama yang ingin memberikannya.”“Tapi ….”“Selama bertahun-tahun Mama kehilangan kesempatan untuk membelikan sesuatu untuk kamu.” Marina memegang tangan Nayla dengan lembut. “Mama nggak bisa melihat kamu tumbuh, nggak bisa mengantarmu sekolah, nggak bisa membelikan pa
Beberapa hari berlalu setelah perayaan sederhana tersebut. Kondisi kesehatan Naufal semakin membaik, sementara Nayla kembali menjalani aktivitasnya di florist. Mereka sudah mulai beraktivitas seperti biasa, meskipun belum maksimal. Setidaknya sudah ada perubahan yang terlihat.Namun di rumah sakit tempat Dimas dirawat, keadaan masih belum berubah. Pria itu tetap terbaring dalam keadaan koma dan belum menunjukkan perkembangan berarti. Rianti hampir setiap hari berada di rumah sakit. Tubuhnya mulai terlihat lelah, matanya sembap karena kurang tidur, sementara pikirannya terus dipenuhi kecemasan tentang putranya.Beberapa kali Rianti menatap ponselnya, berharap ada panggilan dari Naufal. Namun layar itu tetap sunyi. Naufal memang tidak sepenuhnya mengabaikan ibunya, tetapi beberapa hari terakhir perhatiannya lebih banyak tertuju pada pemulihan Nayla, pekerjaan, serta berbagai persoalan keluarga yang muncul bersamaan. Ia bahkan belum mengetahui bahwa Revan terus berada di sisi Rianti d
“Hah?” Nayla membelalak. Baru saat itu ia benar-benar teringat tanggal hari ini.“Enam bulan?” gumamnya tak percaya.“Iya,” jawab Naufal sambil tersenyum.“Ya ampun, aku lupa! Nggak kerasa kita nikah udah 6 bulan.” Wanita itu menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya.“Nggak apa-apa, Sayang. Aku tau kalau kamu lagi banyak masalah. Makanya aku sengaja mau kasih surprise ini buat kamu." Naufal tersenyum, seraya merangkul bahu sang istri agar merapat padanya."Jadi kamu sengaja melakukan semua ini? Kamu sengaja matiin listrik di sini?” Nayla mengangkat wajah, menatap tajam pada sang suami.“Hehe, iya dong." Naufal terkekeh. “Kalau nggak sengaja, namanya bukan kejutan.”Nayla tertawa kecil. Matanya mulai berkaca-kaca ketika kembali memandangi cahaya yang memenuhi tepian danau.“Kamu romantis banget malam ini, Sayang," ujarnya seraya melingkarkan kedua tangan di tubuh Naufal, memeluk suaminya itu sangat erat seakan tak ingin lepas.“Aku cuma ingin kamu punya sesuatu yang bisa diingat
Setelah dari makam, Nayla meminta diantar ke florist. Begitu mobil berhenti di depan toko bunga yang berada di tepi danau itu, Renata dan Laras yang melihat kedatangan mereka dari dalam langsung berlari menghampiri. Keduanya bahkan hampir bersamaan memeluk Nayla begitu wanita itu turun dari mobil.“Nayla! Akhirnya kamu datang juga!”“Kami kangen Kak Nayla,” ucap Laras dengan mata berkaca-kaca.Nayla tertawa kecil di tengah rasa harunya. Ia membalas pelukan kedua wanita itu satu per satu. “Aku juga kangen kalian. Maaf ya, beberapa hari ini aku bikin kalian khawatir.”“Kamu bikin kami khawatir banget,” ujar Renata sambil memperhatikan wajah Nayla. “Kami sampai nggak tahu harus menghubungi siapa.”“Sekarang aku sudah baik-baik saja.” Nayla tersenyum.Laras mengusap bahu Nayla dan ikut tersenyum lega. “Tapi sekarang Kak Nayla kelihatan lebih bahagia.”Nayla tersenyum. Pandangannya menyapu florist yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tempat itu sederhana, tetapi memilik
Pagi itu, Nayla terbangun karena cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai. Namun begitu membuka mata, ia langsung mengernyit. Kamar yang semalam masih terlihat biasa saja kini dipenuhi berbagai kotak dan bingkisan. Beberapa kotak besar tersusun di dekat lemari, sementara meja rias dipenuhi kotak-kotak kecil yang tampak mewah. Bahkan sebuah gaun cantik tergantung di dekat jendela.“Naufal?” Nayla menoleh ke samping. Suaminya sudah duduk di sofa sambil tersenyum.“Selamat pagi, Sayang.” “Ini semua apa?” Nayla bangkit dan memandang sekeliling.“Hadiah.”“Hadiah sebanyak ini?”Naufal terkekeh. “Bukan hadiah dariku. Mama dan Papa yang menyiapkannya buat kamu.”"Apa?" Nayla turun dari tempat tidur dengan langkah perlahan. Ia membuka salah satu kotak dan menemukan sebuah dress elegan. Kotak berikutnya berisi beberapa pakaian lain dengan berbagai model. Di meja rias, terdapat beberapa perhiasan yang tertata rapi, mulai dari kalung, gelang, anting, hingga cincin.“Ini semuanya buat aku
"Naufal?" panggil Nayla. “Hm?”“Jangan pergi ya,” ucap Nayla lirih.Naufal mengecup kening sang istri sangat lama.“Aku nggak akan pergi, Sayang." “Janji?”“Janji.” Lengan pria itu semakin erat memeluk tubuh sang istri. “Aku nggak akan pernah jauh dari kamu, Nayla.”Nayla akhirnya tersenyum tipis. Ia sangat lega mendengar jawaban itu. Beberapa menit kemudian, napasnya pun mulai teratur dan ia tertidur dalam pelukan Naufal.Naufal masih terjaga. Tatapannya tertuju pada wajah istrinya yang kini terlihat jauh lebih tenang. Ia mengusap rambut Nayla perlahan.“Tidurlah, Sayang. Aku akan selalu ada di sini.”* Sementara itu di rumah sakit tempat Dimas dirawat, malam telah berganti menjadi hari-hari yang melelahkan bagi Rianti.Sudah beberapa hari wanita itu berada di sana sejak Dimas dinyatakan koma. Hampir setiap waktu ia menghabiskan waktunya di depan ruang ICU. Sesekali ia diperbolehkan melihat putranya, tetapi kondisi Dimas tidak menunjukkan perubahan berarti.Rianti masih duduk di k
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny







