LOGINNaufal masih duduk di sisi tempat tidur dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya semakin tegang mendengar penjelasan Reza dari seberang telepon."Reza, bagaimana Revan bisa kabur?" Suaranya bergetar.Nayla yang sejak tadi memperhatikan suaminya pun sontak ikut merasa cemas. Suara Reza di seberang telfon juga terdengar berat."Beberapa jam lalu aku bersama Aldo, Bara, dan Kevin membawa Revan ke markas tersembunyi sesuai perintahmu. Tapi di tengah perjalanan, salah satu ban mobil kami bocor. Awalnya kami pikir cuma masalah biasa, tapi ternyata itu jebakan. Begitu kami berhenti, beberapa orang tiba-tiba menyerang. Mereka sudah menunggu kami."“Apa?" Mata Naufal membeliak. "Lalu bagaimana kondisi kalian sekarang?""Kami semua baik-baik saja. Tapi mereka membawa Revan."Rahang Naufal mengeras. "Kau yakin mereka orang-orangnya?""Aku yakin mereka bagian dari kelompok Revan dan Dimas. Cara mereka menyerang terlalu terorganisir. Mereka jelas sudah tahu ke mana kami akan membawa Revan."
"Sarah?”Mata Marina membelalak, sebab orang yang saat ini berdiri di hadapannya adalah seorang wanita cantik dengan penampilan elegan. Rambut panjangnya tertata rapi, gaun hitam sederhana membalut tubuhnya dengan anggun, sementara sebuah tas mewah tergantung di lengannya."Maaf, Tante." Wanita itu tersenyum tipis, tetapi matanya seketika berkaca-kaca.Tanpa menunggu lebih lama, Sarah melangkah masuk lalu memeluk Marina erat. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling berpelukan dalam diam."Maafkan aku, Tante,” bisik Sarah dengan suara bergetar. "Aku baru pulang dari luar negeri. Aku bahkan nggak sempat datang ke pemakaman Arunika."Marina mengusap punggung wanita itu perlahan."Nggak apa-apa, Sayang. Tante tahu kamu pasti punya alasan.""Tapi dia sahabatku, Tante." Sarah melepaskan pelukannya dan mengusap sudut matanya. "Aku seharusnya ada di sini.""Arunika pasti tahu bahwa kamu sangat menyayanginya." Marina tersenyum sedih. Terlihat jelas dari pelupuk matanya yang terus menggenan
Naufal langsung berjongkok di depan Nayla. Tatapannya berpindah dari wajah istrinya yang pucat ke telapak kaki yang mulai mengeluarkan darah."Jangan bergerak dulu, Sayang.""Aku nggak kok apa-apa, Na. Cuma kena pecahan kaca sedikit.""Sedikit juga tetap harus dibersihkan. Udah, nurut aja sama suami kamu ini."Naufal kemudian mengambil sapu tangan bersih dari saku celananya, lalu menekannya perlahan pada telapak kaki Nayla untuk menghentikan darah.Namun Nayla justru masih memegangi dadanya. Jantungnya berdebar tidak beraturan, sementara perasaan gelisah itu semakin kuat tanpa alasan yang jelas."Naufal," panggilnya dengan suara lirih."Hm?""Kenapa aku merasa seperti akan terjadi sesuatu ya?" tanya Nayla pelan.Naufal menatap istrinya sejenak. Ia tahu beberapa minggu terakhir kondisi emosional Nayla memang belum sepenuhnya stabil. Karena itu, ia berusaha tidak membuatnya semakin cemas."Mungkin kamu cuma kecapekan setelah perjalanan jauh.""Tapi rasanya beda, Na." Nayla menggeleng pe
Wiratmadja masih terpaku menatap lembar terakhir hasil pemeriksaan DNA di tangannya. Jemarinya bergetar hebat hingga kertas itu nyaris terlepas. Dadanya naik turun menahan gejolak yang selama puluhan tahun hanya berani ia simpan dalam doa.Marina yang sejak tadi memperhatikan wajah suaminya mulai panik."Pa, ada apa? Jangan diam saja. Hasilnya gimana?" tanyanya dengan suara bergetar.Perlahan, Wiratmadja mengangkat wajahnya. Kedua matanya telah dipenuhi air mata."Ma," suaranya serak. "Hasilnya ... sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan persen.""Apa?" Marina menatap suaminya tanpa berkedip. "Itu artinya ....""Iya." Wiratmadja mengangguk pelan. Bibirnya bergetar hebat sebelum akhirnya ia tak lagi mampu membendung air mata."Nayla adalah putri kita. Dia memang Naura yang hilang." Kalimat itu seolah menghentikan waktu.Marina menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah begitu saja. Lututnya melemas hingga hampir terjatuh kalau saja Wi
Pagi terakhir Nayla dan Naufal di Jogja terasa begitu tenang. Cahaya matahari menembus tirai kamar hotel, menerangi wajah Nayla yang masih tertidur pulas di pelukan Naufal. Selama dua hari terakhir, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla bisa tidur tanpa terbangun karena mimpi buruk ataupun tangis yang diam-diam ia sembunyikan.Naufal menatap wajah istrinya cukup lama. Ada rasa syukur yang memenuhi dadanya ketika melihat Nayla mulai bisa tersenyum lagi, meski hanya sedikit.Perlahan ia menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah sang istri, lalu mengecup keningnya dengan lembut."Bangun, Putri Tidur," bisiknya pelan.Kelopak mata Nayla bergerak perlahan. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum begitu melihat wajah suaminya tepat di depan mata."Udah pagi?""Iya."Nayla melirik jam di nakas. Seketika ia pun tergagap dan bangun dengan cepat."Ya ampun! Kok kamu nggak bangunin aku dari tadi sih?""Aku kasihan. Soalnya kamu nyenyak banget tidurnya.""Maa
Wajah Nayla pun langsung memerah, sampai ke telinganya juga terasa panas. Ia spontan memukul pelan dada bidang suaminya. "Ish... kamu ini." Naufal terkekeh pelan. Ia menangkap kedua tangan Nayla lalu menggenggamnya erat. "Aku serius, Sayang." Tatapan mereka kembali bertemu. Kali ini Nayla tidak lagi bercanda. Ia bisa melihat kesungguhan di mata suaminya. "Sejak kita menikah, aku selalu membayangkan suatu hari nanti rumah kita akan ramai sama suara anak kecil. Aku pengin lihat ada bayi yang manggil kamu Mama... dan manggil aku Papa." Ucapan itu membuat sudut bibir Nayla perlahan tersenyum. Namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali memudar. "Tapi … aku takut," lirihnya dengan kepala tertunduk. "Hah? Takut apa?" Naufal memegang bahu sang istri, menghadap padanya. Nayla masih terdiam cukup lama. Jemarinya tanpa sadar saling meremas, seolah sedang menahan sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian. "Aku takut kalau aku nggak bisa ngasih kamu anak,”
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu







