Masuk“Apa? Aku lumpuh?” Dimas membelalak. Wajahnya yang masih pucat seketika berubah tegang.Dokter mengangguk pelan, tetapi buru-buru memberikan penjelasan sebelum Dimas semakin panik. “Untuk sementara, dari pemeriksaan neurologis yang kami lakukan, fungsi motorik pada kedua tungkai Anda memang tidak menunjukkan respons. Namun kami belum bisa menyimpulkan apakah kondisi tersebut permanen hanya berdasarkan pemeriksaan awal.”Dimas menatap kedua kakinya yang masih tertutup selimut. Sebagai seorang dokter, ia memahami betul arti dari penjelasan tersebut. Ia juga tahu bahwa cedera pada sistem saraf tidak bisa dinilai hanya dari kemampuan menggerakkan anggota tubuh sesaat setelah pasien sadar dari koma.“Jadi kita harus melihat lokasi dan tingkat kerusakan sarafnya,” gumam Dimas lebih kepada dirinya sendiri.“Betul, Dokter. Karena itu, hari ini juga kami akan melakukan pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan atau MRI, untuk melihat kondisi tulang belakang, jaringan di sekitarnya, dan kemungki
“Iya, benar sekali. Kami memang orang tua kandung Nayla,” angguk Wiratmadja.Suasana menjadi semakin canggung. Rianti masih diam, pikirannya berkecamuk. Naufal pun segera melangkah ke tengah mereka. “Sudahlah, Ma. Aku minta maaf karena tidak datang ke rumah sakit dan tidak menghubungi Mama. Aku akan ikut Mama sekarang untuk melihat Dimas. Tapi tolong jangan membuat keributan di rumah ini, apalagi dengan Papa dan Mama Nayla.” Rianti mendengus pelan. Ia masih kesal, tetapi tidak ingin memperpanjang pertengkaran di depan orang lain. “Terserah kamu.” Wanita itu berbalik dan berjalan menuju pintu.Naufal menoleh kepada Nayla sebelum menyusul ibunya. “Sayang, aku pergi sebentar. Jaga diri baik-baik, ya.”“Iya. Kamu juga hati-hati." Nayla mengangguk meski wajahnya masih dipenuhi kecemasan. Sebenarnya ia ingin ikut menemui Dimas, tetapi melihat Rianti masih begitu marah kepadanya, ia tahu kehadirannya hanya akan memperburuk keadaan. “Pasti, Sayang." Naufal tersenyum tipis, kemudian meny
Aldo yang baru saja membuka pintu pun sontak membelalak. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ada Rianti yang berdiri di hadapannya dengan wajah merah dan mata sembap. Wanita itu bahkan belum sempat menyapa, tetapi dari sorot matanya saja Aldo sudah bisa menebak bahwa kedatangannya bukan untuk berbasa-basi.“Nyonya Rianti?”“Di mana Naufal?” tanya Rianti dengan suara tegas.Aldo sempat terdiam. “Dokter Naufal ada di dalam, Bu. Tapi ….”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Rianti sudah melangkah masuk. “Panggil dia. Saya mau bicara sama Naufal sekarang.”“Nyonya, tunggu dulu …!”Namun, Rianti tidak menghiraukannya. Langkahnya semakin cepat menuju ruang keluarga. Suaranya bahkan terdengar sebelum ia sampai di sana.“Naufal!”Suara keras sang mama membuat Naufal dan yang lainnya pun terkejut bukan main. Mereka refleks menoleh bersamaan ke asal suara.Rianti tampak berdiri di ruang keluarga dengan wajah penuh kemarahan. Tatapannya tidak lepas dari Naufal seolah semua kekecewaan yang
Sejak hari itu, hidup Nayla pun mulai berubah, setelah mengetahui dirinya adalah putri kandung Wiratmadja dan Marina. Perubahan itu terasa semakin nyata karena hampir setiap hari Marina datang membawa sesuatu untuknya. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, kosmetik, hingga berbagai kebutuhan kecil yang sebenarnya tidak pernah Nayla minta.“Ma, ini kebanyakan banget,” keluh Nayla ketika Marina kembali datang membawa beberapa paper bag.Marina justru tersenyum lebar. “Kebanyakan dari mana? Mama malah merasa masih kurang.”Nayla menghela napas sambil membuka salah satu kantong. Isinya sebuah tas bermerek yang harganya bahkan membuatnya enggan membayangkan nominalnya.“Aku nggak butuh barang semahal ini.”“Kamu nggak butuh, tapi Mama yang ingin memberikannya.”“Tapi ….”“Selama bertahun-tahun Mama kehilangan kesempatan untuk membelikan sesuatu untuk kamu.” Marina memegang tangan Nayla dengan lembut. “Mama nggak bisa melihat kamu tumbuh, nggak bisa mengantarmu sekolah, nggak bisa membelikan pa
Beberapa hari berlalu setelah perayaan sederhana tersebut. Kondisi kesehatan Naufal semakin membaik, sementara Nayla kembali menjalani aktivitasnya di florist. Mereka sudah mulai beraktivitas seperti biasa, meskipun belum maksimal. Setidaknya sudah ada perubahan yang terlihat.Namun di rumah sakit tempat Dimas dirawat, keadaan masih belum berubah. Pria itu tetap terbaring dalam keadaan koma dan belum menunjukkan perkembangan berarti. Rianti hampir setiap hari berada di rumah sakit. Tubuhnya mulai terlihat lelah, matanya sembap karena kurang tidur, sementara pikirannya terus dipenuhi kecemasan tentang putranya.Beberapa kali Rianti menatap ponselnya, berharap ada panggilan dari Naufal. Namun layar itu tetap sunyi. Naufal memang tidak sepenuhnya mengabaikan ibunya, tetapi beberapa hari terakhir perhatiannya lebih banyak tertuju pada pemulihan Nayla, pekerjaan, serta berbagai persoalan keluarga yang muncul bersamaan. Ia bahkan belum mengetahui bahwa Revan terus berada di sisi Rianti d
“Hah?” Nayla membelalak. Baru saat itu ia benar-benar teringat tanggal hari ini.“Enam bulan?” gumamnya tak percaya.“Iya,” jawab Naufal sambil tersenyum.“Ya ampun, aku lupa! Nggak kerasa kita nikah udah 6 bulan.” Wanita itu menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya.“Nggak apa-apa, Sayang. Aku tau kalau kamu lagi banyak masalah. Makanya aku sengaja mau kasih surprise ini buat kamu." Naufal tersenyum, seraya merangkul bahu sang istri agar merapat padanya."Jadi kamu sengaja melakukan semua ini? Kamu sengaja matiin listrik di sini?” Nayla mengangkat wajah, menatap tajam pada sang suami.“Hehe, iya dong." Naufal terkekeh. “Kalau nggak sengaja, namanya bukan kejutan.”Nayla tertawa kecil. Matanya mulai berkaca-kaca ketika kembali memandangi cahaya yang memenuhi tepian danau.“Kamu romantis banget malam ini, Sayang," ujarnya seraya melingkarkan kedua tangan di tubuh Naufal, memeluk suaminya itu sangat erat seakan tak ingin lepas.“Aku cuma ingin kamu punya sesuatu yang bisa diingat
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny







