Di tempat lain, sore itu Dimas masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong mengarah ke langit-langit. Sudah berhari-hari ia berada di sana, dan semakin lama ia semakin muak dengan bau obat, suara alat medis, serta rutinitas yang sama setiap hari. Dulu ia adalah seorang dokter yang terbiasa berjalan ke sana kemari, menangani pasien, dan membuat keputusan penting. Sekarang, untuk sekadar berpindah tempat pun ia harus mengandalkan orang lain.Kedua kakinya masih tidak bisa digerakkan seperti biasa. Bahkan untuk duduk dan berpindah ke kursi roda saja ia membutuhkan bantuan. Hal itu membuat harga dirinya terasa semakin terinjak.“Ma,” panggil Dimas akhirnya.Rianti yang sejak tadi duduk di sofa pun langsung menoleh kepada putranya itu.“Iya, Nak?”“Aku mau pulang,” kata Dimas pelan.“Hah?" Rianti mengerutkan kening dalam-dalam. “Pulang?”“Iya, Ma. Aku sudah sangat muak di sini.”Revan yang berdiri di dekat jendela ikut menoleh. Ia sudah cukup lama menemani Dimas dan tahu
Ler mais