Home / Romansa / Jangan Dikeluarin Dulu, Dok! / 347. Raut Wajah Renata

Share

347. Raut Wajah Renata

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-08-28 10:20:54

“Halo, ada apa, Arman?” tanya Naufal sedikit gelisah setelah mengangkat telfon itu. Ia khawatir jika terjadi hal buruk pada wanita yang ditabrak oleh Nayla itu.

“Fal, aku perlu bicara denganmu.”

Naufal yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung menegakkan tubuh. Nayla yang berada di sampingnya pun ikut memperhatikan dengan wajah cemas. Dari nada suara Arman, sepertinya ada sesuatu yang cukup penting.

“Kenapa, Man? Apa terjadi sesuatu sama wanita itu? Bagaimana operasinya?" Suara Naufal geli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   347. Raut Wajah Renata

    “Halo, ada apa, Arman?” tanya Naufal sedikit gelisah setelah mengangkat telfon itu. Ia khawatir jika terjadi hal buruk pada wanita yang ditabrak oleh Nayla itu.“Fal, aku perlu bicara denganmu.”Naufal yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung menegakkan tubuh. Nayla yang berada di sampingnya pun ikut memperhatikan dengan wajah cemas. Dari nada suara Arman, sepertinya ada sesuatu yang cukup penting.“Kenapa, Man? Apa terjadi sesuatu sama wanita itu? Bagaimana operasinya?" Suara Naufal gelisah.“Tenang dulu, Fal. Aku mau mengatakan hasil operasinya. Sekarang kondisinya justru sudah jauh lebih baik.” Suara Arman terdengar lebih santai dibandingkan sebelumnya. “Operasi rekonstruksi wajahnya berhasil. Tidak ada komplikasi besar selama tindakan, dan sejauh ini respons tubuhnya cukup bagus.”"Ya Ampun! Syukurlah!" Naufal mengembuskan napas lega.“Operasinya memang berjalan cukup lama. Kerusakan jaringan akibat kecelakaan cukup luas, jadi kami harus bekerja sangat hati-hati. Untuk tahap

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   346. Ahh, Malah Ajak Bercinta (21+)

    Operasi wajah wanita misterius itu pun akhirnya dilakukan. Di dalam ruang operasi, Dokter Arman dan seluruh timnya bekerja dengan penuh konsentrasi. Kondisi pasien yang sebelumnya sangat kritis membuat setiap tindakan harus dilakukan dengan hati-hati. Mereka tidak hanya berusaha memperbaiki kerusakan pada wajahnya, tetapi juga mempertahankan jaringan yang masih bisa diselamatkan. “Bagaimana tekanan darahnya sejauh ini?" tanya dokter itu. “Tekanan darah masih stabil, Dok." “Bagus. Pertahankan.” “Baik, Dok." Sambil terus bekerja, Dokter Arman tidak mengalihkan pandangan dari area operasi. “Kita lanjutkan. Jangan sampai ada bagian yang terlewat.” "Siap, Dok.” Jam demi jam berlalu. Tidak ada yang berani bekerja dengan tergesa-gesa. Mereka tahu, satu kesalahan kecil bisa berdampak besar terhadap kondisi pasien. Akhirnya, setelah menjalani prosedur yang panjang dan melelahkan, operasi pun selesai. Dokter Arman melepas sarung tangannya dan mengembuskan napas panjang. “Untuk tahap

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   345. Operasi Wajah

    Naufal berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya. Sesekali pandangannya jatuh kepada Nayla yang masih tertidur di sofa. Wajah istrinya terlihat begitu lelah setelah semua kejadian malam ini.Ia berhenti di depan meja, lalu mengambil ponselnya.“Kalau aku cuma menunggu, aku nggak akan tahu apa yang terjadi padanya.”Naufal membuka daftar kontak dan mencari nomor seseorang.Ia hendak menghubungi dokter spesialis yang sebelumnya sudah ia rencanakan untuk menangani operasi rekonstruksi wajah wanita tersebut. Namun sebelum sempat menekan tombol panggilan, sebuah pesan masuk.“Dari Dokter Arman?”Naufal penasaran dan cepat-cepat membuka pesan itu.[Pasien sudah tiba di rumah sakit kami. Kondisinya kembali tidak stabil.]Kening Naufal langsung berkerut. Matanya membelalak. Ia membaca pesan itu sekali lagi.“Tidak stabil?”Jarinya kemudian segera mengetik balasan.[Lalu bagaimana kondisinya sekarang?]Tidak sampai satu menit, pesan balasan masuk.[Tekanan darah sempat turun drastis selama p

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   344. Merasa Familiar

    “Gelang itu …?”Renata masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti brankar yang semakin menjauh menuju ujung koridor. Entah kenapa, benda sederhana itu terasa begitu familiar di matanya.“Kenapa dengan gelangnya?” tanya Aldo, yang tak sengaja mendengar Renata berucap seorang diri.Renata tidak langsung menjawab. Ia hanya masih berusaha mengingat.“Aku rasa pernah melihat gelang seperti itu,” jawabnya sangat pelan.“Benarkah? Di mana?” Aldo melirik sekilas pada gadis di sampingnya itu.Renata mengerutkan kening. Ia mengetuk-ngetuk dahinya, sebelum berdecak kesal.“Aku nggak tahu. Rasanya seperti pernah melihatnya, tapi aku nggak ingat kapan dan dimana.”Aldo menoleh ke arah brankar yang kini sudah hampir mencapai lift.“Mungkin itu cuma gelang biasa. Banyak yang punya gelang seperti itu.”“Hmm, mungkin saja.” Renata akhirnya menggeleng kecil. “Tapi entah kenapa aku merasa pernah melihatnya pada seseorang.”Tak lama, pintu lift pun terbuka. Para perawat segera mendorong brankar ma

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   343. Apakah ini Petunjuk?

    “Kenapa kau diam saja, Fal? Ada apa sebenarnya?” Suara Reza kembali terdengar panik dari seberang telepon.Naufal terdiam beberapa detik. Tatapannya masih tertuju kepada Nayla yang duduk bersama Marina dan Renata di kursi tunggu. Istrinya memang selamat, tetapi malam ini mereka baru saja melewati kejadian yang hampir membuat jantungnya berhenti.“Kau dengar dari siapa?” tanya Naufal akhirnya.“Kak Sarah.” Suara Reza terdengar sedikit terburu-buru. “Tadi kakakku bilang kalau ada kecelakaan dan identitas korban sempat mengarah kepada Nayla . Aku sangat khawatir.”Naufal menghela napas panjang. Entah kenapa, mendengar nama Nayla disebut dengan nada secemas itu membuat perasaannya kembali tidak nyaman. Ia teringat pengakuan Reza kepada Sarah, dan bagaimana sahabatnya itu mencintai istrinya. Perasaan yang baru muncul setelah mereka bertemu dan saling mengenal lebih dekat.Namun di saat yang sama, Reza tetaplah sahabatnya.“Tenang. Nayla baik-baik saja,” jawab Naufal.“Benarkah?” suara Rez

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   342. Masih Perhatian?

    Di tempat lain, sore itu Dimas masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong mengarah ke langit-langit. Sudah berhari-hari ia berada di sana, dan semakin lama ia semakin muak dengan bau obat, suara alat medis, serta rutinitas yang sama setiap hari. Dulu ia adalah seorang dokter yang terbiasa berjalan ke sana kemari, menangani pasien, dan membuat keputusan penting. Sekarang, untuk sekadar berpindah tempat pun ia harus mengandalkan orang lain.Kedua kakinya masih tidak bisa digerakkan seperti biasa. Bahkan untuk duduk dan berpindah ke kursi roda saja ia membutuhkan bantuan. Hal itu membuat harga dirinya terasa semakin terinjak.“Ma,” panggil Dimas akhirnya.Rianti yang sejak tadi duduk di sofa pun langsung menoleh kepada putranya itu.“Iya, Nak?”“Aku mau pulang,” kata Dimas pelan.“Hah?" Rianti mengerutkan kening dalam-dalam. “Pulang?”“Iya, Ma. Aku sudah sangat muak di sini.”Revan yang berdiri di dekat jendela ikut menoleh. Ia sudah cukup lama menemani Dimas dan tahu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   4. Hamili Menantuku!

    What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   3. Dokter Rekomendasi Ibu Mertua

    Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status