ANMELDENNaufal berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya. Sesekali pandangannya jatuh kepada Nayla yang masih tertidur di sofa. Wajah istrinya terlihat begitu lelah setelah semua kejadian malam ini.Ia berhenti di depan meja, lalu mengambil ponselnya.“Kalau aku cuma menunggu, aku nggak akan tahu apa yang terjadi padanya.”Naufal membuka daftar kontak dan mencari nomor seseorang.Ia hendak menghubungi dokter spesialis yang sebelumnya sudah ia rencanakan untuk menangani operasi rekonstruksi wajah wanita tersebut. Namun sebelum sempat menekan tombol panggilan, sebuah pesan masuk.“Dari Dokter Arman?”Naufal penasaran dan cepat-cepat membuka pesan itu.[Pasien sudah tiba di rumah sakit kami. Kondisinya kembali tidak stabil.]Kening Naufal langsung berkerut. Matanya membelalak. Ia membaca pesan itu sekali lagi.“Tidak stabil?”Jarinya kemudian segera mengetik balasan.[Lalu bagaimana kondisinya sekarang?]Tidak sampai satu menit, pesan balasan masuk.[Tekanan darah sempat turun drastis selama p
“Gelang itu …?”Renata masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti brankar yang semakin menjauh menuju ujung koridor. Entah kenapa, benda sederhana itu terasa begitu familiar di matanya.“Kenapa dengan gelangnya?” tanya Aldo, yang tak sengaja mendengar Renata berucap seorang diri.Renata tidak langsung menjawab. Ia hanya masih berusaha mengingat.“Aku rasa pernah melihat gelang seperti itu,” jawabnya sangat pelan.“Benarkah? Di mana?” Aldo melirik sekilas pada gadis di sampingnya itu.Renata mengerutkan kening. Ia mengetuk-ngetuk dahinya, sebelum berdecak kesal.“Aku nggak tahu. Rasanya seperti pernah melihatnya, tapi aku nggak ingat kapan dan dimana.”Aldo menoleh ke arah brankar yang kini sudah hampir mencapai lift.“Mungkin itu cuma gelang biasa. Banyak yang punya gelang seperti itu.”“Hmm, mungkin saja.” Renata akhirnya menggeleng kecil. “Tapi entah kenapa aku merasa pernah melihatnya pada seseorang.”Tak lama, pintu lift pun terbuka. Para perawat segera mendorong brankar ma
“Kenapa kau diam saja, Fal? Ada apa sebenarnya?” Suara Reza kembali terdengar panik dari seberang telepon.Naufal terdiam beberapa detik. Tatapannya masih tertuju kepada Nayla yang duduk bersama Marina dan Renata di kursi tunggu. Istrinya memang selamat, tetapi malam ini mereka baru saja melewati kejadian yang hampir membuat jantungnya berhenti.“Kau dengar dari siapa?” tanya Naufal akhirnya.“Kak Sarah.” Suara Reza terdengar sedikit terburu-buru. “Tadi kakakku bilang kalau ada kecelakaan dan identitas korban sempat mengarah kepada Nayla . Aku sangat khawatir.”Naufal menghela napas panjang. Entah kenapa, mendengar nama Nayla disebut dengan nada secemas itu membuat perasaannya kembali tidak nyaman. Ia teringat pengakuan Reza kepada Sarah, dan bagaimana sahabatnya itu mencintai istrinya. Perasaan yang baru muncul setelah mereka bertemu dan saling mengenal lebih dekat.Namun di saat yang sama, Reza tetaplah sahabatnya.“Tenang. Nayla baik-baik saja,” jawab Naufal.“Benarkah?” suara Rez
Di tempat lain, sore itu Dimas masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong mengarah ke langit-langit. Sudah berhari-hari ia berada di sana, dan semakin lama ia semakin muak dengan bau obat, suara alat medis, serta rutinitas yang sama setiap hari. Dulu ia adalah seorang dokter yang terbiasa berjalan ke sana kemari, menangani pasien, dan membuat keputusan penting. Sekarang, untuk sekadar berpindah tempat pun ia harus mengandalkan orang lain.Kedua kakinya masih tidak bisa digerakkan seperti biasa. Bahkan untuk duduk dan berpindah ke kursi roda saja ia membutuhkan bantuan. Hal itu membuat harga dirinya terasa semakin terinjak.“Ma,” panggil Dimas akhirnya.Rianti yang sejak tadi duduk di sofa pun langsung menoleh kepada putranya itu.“Iya, Nak?”“Aku mau pulang,” kata Dimas pelan.“Hah?" Rianti mengerutkan kening dalam-dalam. “Pulang?”“Iya, Ma. Aku sudah sangat muak di sini.”Revan yang berdiri di dekat jendela ikut menoleh. Ia sudah cukup lama menemani Dimas dan tahu
Waktu terus berjalan, tetapi satu hal masih belum berubah. Wanita yang menjadi korban kecelakaan itu belum memiliki identitas.Naufal berdiri di depan ruang operasi dengan wajah tegang. Sesekali matanya melirik pintu yang sejak tadi tertutup rapat. Di sampingnya, Nayla duduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Wajahnya pucat dan matanya sembap karena terlalu banyak menangis.Mereka sudah melakukan berbagai cara. Petugas rumah sakit kembali memeriksa barang-barang yang ditemukan di lokasi kecelakaan, sementara polisi yang datang beberapa waktu lalu juga melakukan pendataan. Namun hasilnya tetap sama.Wanita itu tidak ada kartu identitas, tidak ada ponsel, tidak ada dompet, dan tidak ada satu pun benda yang bisa mengungkap siapa wanita tersebut.Bahkan motor yang dikendarainya pun bukan atas nama dirinya.“Astaga bagaimana ini? Sampai sekarang kita benar-benar nggak tahu siapa dia?” tanya Naufal kepada salah seorang polisi.Polisi tersebut menggeleng. “Belum, Dok. Kami sedang mencob
“Iya, Na. Aku setuju.” Nayla mengangguk mendengar perkataan Naufal. Tatapannya masih tertuju kepada pintu ruang tindakan yang kembali tertutup. Di balik pintu itu, seorang wanita sedang berjuang mempertahankan hidupnya, sementara tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya dirinya.“Kita harus mencari tahu identitasnya,” ujar Naufal lagi. “Kalau tidak ada keluarga yang datang, kita harus menemukan petunjuk lain.”“Aku akan bantu,” jawab Nayla pelan.Naufal menggenggam tangan istrinya.“Kamu jangan memaksakan diri. Kepala kamu tadi terbentur dan masih sakit. Aku nggak mau kalau istriku ini jadi tambah sakit.“Aku nggak apa-apa, Na. Aku masih ingat jelas bagaimana kecelakaannya terjadi. Siapa tau itu berguna, karena biar bagaimana pun aku juga korban sekaligus saksi.” Suara Nayla terdengar berat, seperti menahan beban dalam hatinya.Naufal terdiam, kemudian menatap Nayla beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah kalau begitu," angguknya.Setelah memberikan beberapa instruksi kep
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b







