“Apa maksudmu tidak bisa? Kenapa, Sal?” Saat ciuman itu terlepas, Vino menatap Sally dengan tatapan tak percaya dan bingung. Sally mengambil dapas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri, sebelum memberikan dirinya sniri, sebelum memberikan keputusan yang akan menghancurkan hari mereka. “Paspor… tiket… uang… Sal, apa-apaan ini? Aku tidak butuh semua ini kalau kau tidak ikut denganku!” Vino menerima amplop cokelat itu dengan tangan bergetar, lau menatap isinya satu persatu. “Itu tiket kebebasanmu, Vino. Andrew sudah memblokir semua aksesmu. Hanya dengan paspor itu kau bisa keluar dari negara ini sebelum dia menyadari kau hilang.” Sally menahan tangis, suaranya parau. “Lalu bagaimana denganmu? Kau mau aku pulang ke Jakarta dan membiarkanmu disini seorang diri?” Vino mengcengkram bahu Sally, matanya memerah. “Kita lari sekarang, Sal. Kita cari perlindungan di kedutaan, kata-“ Bicara Vino terhenti seketika. “Dan membiarkan Mama dan Abang ku malu? Tidak Vin, Andrew
Leer más