Matahari pagi menembus jendela ruang makan, namun kehangatannya seolah terhenti di ambang pintu. Di meja kayu itu, hanya terdengar denting sendok yang beradu pelan dengan porselen. Andrew duduk tegak, matanya terpaku pada layar tablet di hadapannya, seolah jadwal pernerbangan ke Indonesia adalah hal paling rumit yang pernah ia baca. Ia bahkan tidak berani melirik ke arah kursi di seberangnya.Sally duduk dengan bahu yang sedikit kaku. Ia berung kali mengaduk tehnya yang sudah mendingin, bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Kejadian semalam_sentuhan itu,ciuman singkat itu, dan kepergian Andrew yang tiba-tiba_masih terasa begitu nyata di bibirnya.“Sudah… sudah siap semua barangnya?” tanya Sally akhirnya, suaranya memecah kesunyian dengan ragu.Andrew tersentak kecil, hampir menjatuhkan tabletnya. “Ya. Sudah. Asistenku sudah mengurus bagasi tambahan,” jawabannya cepat, terlalu formal, tanpa sekalipun mengangkat wajah, ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mengcekik
Read more