Lampu remang basement apartemen Satya memantulkan bayangan sunyi malam itu. Satya berjalan dengan langkah berat, melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik sejak rapat maraton tadi siang.Baru saja ia mengeluarkan kunci akses mobil dari sakunya, sebuah bayangan pria paruh baya keluar dari balik pilar beton.Langkahnya tergesa-gesa, wajahnya yang biasa angkuh kini tampak kuyu dan dipenuhi keringat dingin. Itu Wijaya, pemilik Wijaya Grup sekaligus ayah Clarissa.“Satya! Tunggu, Sat. Saya butuh bicara sama kamu,” panggil Wijaya dengan suara yang serak, kehilangan wibawa yang biasanya ia pamerkan di lantai bursa.Satya menghentikan langkahnya, tangannya masih memegang gagang pintu mobil. Ia menatap pria di depannya tanpa ekspresi, seolah-olah yang berdiri di sana hanyalah angin lalu. “Malam, Pak Wijaya. Maaf, tapi urusan kita di kantor tadi siang sudah selesai secara legal.”“Tolong, Satya. Kasih saya waktu sebentar. Kita bicara empat mata, jangan di sini,” mohon Wijaya, matanya ber
Read more