Keesokan harinya, Ghea kembali ke kantor.Di depan cermin toilet, Ghea menatap pantulannya sendiri untuk kesekian kalinya. Ia telah menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya untuk memulaskan concealer ekstra tebal di bawah matanya yang sembab.Riasan matanya dibuat sedikit lebih tajam agar orang-orang tidak menyadari bahwa di balik maskara waterproof itu, ada sisa-sisa kehancuran semalam.Ghea menarik napas panjang, merapikan blazer hitamnya, dan keluar menuju kubikelnya. Ia berjalan dengan langkah tegak, menyapa beberapa rekan kerja dengan senyum sopan yang sangat terkontrol.Baginya, ciuman panas di lorong servis dan pengumuman pertunangan Satya yang memuakkan itu harus dikubur dalam-dalam di bawah lantai marmer kantor ini.“Pagi, Mbak Ghea. Sudah dengar kan? Selamat ya, pasti bakal sibuk banget nih,” sapa seorang staf dari bagian umum.“Pagi. Iya, terima kasih,” jawab Ghea singkat, tanpa menghentikan langkah. Ia tidak ingin memberi ruang bagi percakapan lebih lanjut yang hanya ak
Read more