Ghea berdiri mematung di lorong apartemen yang sunyi, menatap sosok Satya yang kini sudah tegak berdiri di depan pintu unitnya. Aura tenang yang tadi ia bawa dari makan malam bersama Rayhan mendadak menguap, berganti dengan rasa sesak yang familiar.Bau alkohol tipis tercium saat Satya melangkah satu langkah lebih dekat, namun sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia masih sangat sadar.“Aku tanya sekali lagi, Ghea. Kamu dari mana?” suara Satya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.Ghea mendengus, mencoba mengabaikan debaran jantungnya. “Aku makan malam. Dan ponselku mati karena baterainya habis, bukan sengaja aku matikan. Sekarang minggir, aku mau masuk.”“Makan malam sama Rayhan?” Satya tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak enak di telinga.“Tiga jam, Ghea. Aku telepon berkali-kali cuma buat dengar suara operator, sementara kamu asyik tertawa sama dia di Senopati? Kamu tahu nggak betapa konyolnya itu?”“Yang konyol itu kamu, Sat!” Ghea balas membentak, k
Read more