“Kalau aku tetap jadi nikah sama Clarissa, mungkin aku nggak akan berbaring di sini, Ghe,” suara Satya memecah keheningan, terdengar dingin dan datar.Ghea mengusap dahi Satya dengan handuk kecil yang sudah mendingin. “Maksud kamu?”“Aku mungkin bakal ada di kantor, atau di acara gala dinner mana pun, berdiri pakai jas rapi di samping dia. Tapi aku bakal mati di dalam,” Satya tertawa getir, sebuah suara yang sangat menyakitkan untuk didengar.“Bagi Clarissa, aku itu cuma aksesori. Aku itu cuma piala yang bisa dia pamerin ke kolega-koleganya. Dia nggak akan peduli kalau aku muntah darah karena maag, asalkan aku tetap kelihatan hebat di depan kamera.”“Sat, jangan bicara begitu. Kamu lagi sakit, fokus saja buat sembuh,” sahut Ghea pelan, hatinya mencelos mendengar kepahitan dalam nada bicara Satya.“Aku serius, Ghe. Kalau aku tetap lanjutin sandiwara itu, aku cuma bakal jadi robot reputasi. Hidup untuk nyenengin Mama, hidup untuk jaga harga diri keluarga Winata, sampai akhirnya aku mati
Read more