“Biar Ghea aja, Ma,” bisik Ghea sambil menahan lengan Mamanya.Ghea membuka pintu kayu depan yang sedikit berderit. Begitu ia melangkah ke teras, pemandangan di depannya terasa sangat surealis.Satya Adhitama, pria yang biasanya dikelilingi asisten dan pengawal di gedung pencakar langit, kini berdiri di depan pagar rumahnya yang sederhana.Kemeja putihnya yang bermerek itu sudah tidak rapi lagi, dua kancing teratasnya terbuka, dan wajahnya tampak kuyu seolah ia tidak tidur sejak pesta tempo hari.“Ghe...” panggil Satya, suaranya parau. Matanya langsung mengunci sosok Ghea, ada kilat lega sekaligus ketakutan yang dalam di sana.Ghea berjalan perlahan mendekati pagar, tangannya melipat di depan dada. “Kamu ngapain di sini, Sat? Bagaimana bisa kamu tahu alamat rumah Mamaku?”“Aku cari di berkas karyawan pusat semalam. Kamu nggak angkat teleponku, Ghe. Kamu matikan ponsel berjam-jam. Aku pikir kamu mau menghilang selamanya,” ujar Satya cepat, kalimatnya saling berkejaran. Ia memegang ping
Read more