Lampu lobi apartemen terasa terlalu terang bagi mata Satya yang lelah. Ia berjalan gontai menuju lift, mengabaikan sapaan satpam yang biasanya ia balas dengan anggukan sopan.Di dalam lift, ia menatap pantulan dirinya di cermin logam; kemeja kusut, rambut berantakan, dan gurat wajah yang tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Satya baru saja menanggalkan seluruh dunianya, harta, jabatan, dan restu ibunya demi sebuah pertaruhan yang belum tentu berujung manis.Begitu sampai di depan pintu unitnya, tangannya sedikit gemetar saat menempelkan kartu akses. Begitu pintu terbuka, bau harum lavender yang menenangkan menyambutnya. Dan di sana, di ruang tengah yang hanya diterangi lampu sudut yang temaram, Ghea berdiri dengan wajah pucat pasi.Ghea langsung berlari kecil menghampirinya. “Satya, akhirnya kamu pulang juga. Aku khawatir sama kamu. Aku telepon nggak masuk, aku kirim pesan nggak dibalas.”Satya tidak sanggup mengeluarkan satu patah kata pun. Ia hanya maju selangkah, lalu ambruk ke
Read more