“Sst, pelan-pelan, Sat. Tarik napas... buang,” bisik Ghea lembut, sementara jemarinya terus mengusap tengkuk Satya untuk memberikan rasa aman.Satya tidak menjawab. Ia justru semakin membenamkan wajahnya, menghirup aroma tubuh Ghea yang bercampur sedikit keringat dan parfum vanilla yang sudah mulai pudar.Di tengah kegelapan yang menjadi momok paling mengerikan dalam hidupnya, keberadaan Ghea adalah satu-satunya titik terang yang ia punya. Ketergantungan itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang lebih liar, sesuatu yang sudah lama ia kunci di balik jeruji egonya.“Ghea...” suara Satya terdengar serak, parau, dan sarat dengan keputusasaan.“Iya, aku di sini. Aku nggak ke mana-mana,” sahut Ghea, masih mencoba menenangkan.Satya perlahan menjauhkan wajahnya dari leher Ghea, namun tangannya tidak melepaskan pinggang wanita itu.Dalam kegelapan total, mata Satya mencoba mencari siluet wajah Ghea. Meski ia tidak bisa melihat dengan jelas, ia bisa merasakan napas Ghea yang menerpa bibirnya.
Read more