Satya tidak membiarkan Rayhan membalas ucapannya. Dengan satu sentakan kasar, ia melepaskan kerah jas kolega bisnisnya itu, lalu berbalik dan menyambar pergelangan tangan Ghea.Cengkeramannya kuat, tidak menyisakan ruang bagi Ghea untuk menghindar. Tanpa sepatah kata pun, Satya menarik Ghea keluar dari balkon, melewati pintu kaca, dan mengabaikan tatapan beberapa tamu yang sempat menoleh heran.“Sat, lepasin! Kamu sakit, Sat!” seru Ghea, berusaha menahan langkahnya yang terseret-seret mengikuti langkah besar Satya.Satya tidak menggubris. Ia terus menarik Ghea melewati kerumunan di pinggir ballroom, lalu berbelok masuk ke sebuah pintu kayu yang biasanya hanya digunakan oleh staf hotel, lorong servis yang panjang, sepi, dan hanya diterangi lampu redup.Suara musik jazz dari aula mendadak teredam, berganti dengan suara langkah kaki mereka yang menggema di atas lantai beton.Setelah merasa cukup jauh dari keramaian, Satya melepaskan tangan Ghea dengan sekali sentak. Ghea terhuyung, pungg
Read more