“Pak Surya sudah menunggu di restoran. Siapkan berkas penawaran dan ikut aku sekarang. Jangan ada alasan ketinggalan atau lupa.”Satya mengucapkan kalimat itu tanpa menoleh, sembari menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya.Ghea yang baru saja selesai merapikan tumpukan kertas yang tadi sengaja dijatuhkan Satya, hanya bisa menghela napas pendek. Ia segera berdiri, merapikan rok span hitamnya, dan menyambar tas kerja dengan gerakan sigap.“Baik, Pak. Mobil sudah saya pastikan siap di lobi,” jawab Ghea datar.Sepanjang perjalanan menuju restoran mewah di kawasan SCBD, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekik. Satya menyetir sendiri, menolak bantuan sopir kantor hanya agar bisa berdua dengan Ghea.Namun, harapannya untuk mendengar Ghea mengeluh atau setidaknya bicara santai pupus total. Ghea hanya fokus pada tablet di pangkuannya, memeriksa poin-poin presentasi seolah-olah Satya hanyalah sebuah patung yang kebetulan sedang memegang kemudi.Sesampainya di restoran, Pak Surya, seor
Read more