Sementara di rumah Roland, hanya tinggal mereka berdua, Roland dan Barbara saja sekarang.Barbara menatap pecahan vas bunga yang mengotori karpet."Maafkan aku," ucap Barbara dan Roland secara bersamaan.Keduanya saling menatap dalam keheningan yang mendadak canggung. Roland mengusap rahangnya yang memar, lalu menggeleng pelan. "Kau tidak seharusnya meminta maaf, Barbara."Barbara mendengkus tipis, "Aku memang harus meminta maaf. Akibat kesalahpahaman konyol ini, rumahmu berubah seperti area peperangan.""Jika yang kau maksud kekacauan amukan Monic tadi, aku justru sangat berterima kasih padamu," tanggap Roland santai, bersandar pada tepi meja kayu. "Sudah lama sekali aku mencari alasan yang tepat untuk menyingkirkan wanita itu dari hidupku."Barbara berdecak kesal, memutar bola matanya malas. "Pria di mana-mana ternyata sama saja. Kau hanya sudah bosan padanya, kan?""Aku dan Monic tidak pernah menjalin hubungan asmara apa pun," bela Roland cepat, membentangkan kedua tangannya di uda
Read more