Fajar menyingsing dengan warna merah tembaga yang merayap di dinding kamar, namun hawa panas di dalam ruangan itu belum juga memudar.Elara terkapar di tengah hamparan seprai sutra yang kini berantakan, basah oleh keringat dan sisa-sisa penyatuan liar semalam.Napasnya masih pendek-pendek, dadanya naik turun dengan ritme yang berat. Tubuhnya terasa remuk, namun ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang bergejolak di balik pembuluh darahnya.Saat kelima raja itu mulai mengenakan zirah pertempuran mereka dalam keheningan yang khidmat, Elara merasakan sebuah denyutan hebat di pangkal rahimnya. Itu bukan rasa sakit. Itu adalah ledakan energi yang dingin namun sekaligus membakar.Setiap tetes benih yang ditinggalkan oleh Lucian, Vrax, Malphas, Kaelath, dan Zhen di dalam tubuhnya tidak mengalir keluar.Sebaliknya, cairan itu seolah terserap ke dalam pori-pori dinding rahimnya, berubah menjadi partikel cahaya keperakan yang merambat naik melalui tulang belakangnya.“Ah...” Elara melenguh pelan, ma
Mehr lesen