Begitu pintu mobil tertutup rapat, sunyi langsung menyergap. Rea menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, matanya kosong menatap gedung pencakar langit yang baru saja mereka tinggalkan. Napasnya terasa berat, ada rasa sesak yang tertahan di dadanya. "Kita kalah telak," gumam Rea lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi mesin mobil yang mulai menyala. Arlo memakai kacamata hitamnya, lalu melirik Rea lewat sudut mata. "Siapa yang bilang begitu?" Rea menoleh, menatap Arlo dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Bianca punya dokumen medis, dia punya saksi, dia punya pengacara yang siap menerkam kita kapan saja. Dia sudah menyiapkan semuanya, Arlo!" Arlo akhirnya memutar kemudi, membawa mobil membelah jalanan kota yang padat. "Kamu terlalu cepat menyerah, Rea. Di kokpit, kalau aku menyerah saat ada alarm peringatan, pesawatku pasti akan jatuh. Tapi nyatanya, aku selalu mendarat dengan selamat." "Ini bukan soal menerbangkan pesawat, Arlo! Ini soal hukum, soal hart
Mehr lesen