Suasana yang tadinya membara mendadak membeku. Rea dengan gerakan cepat mendorong dada bidang Arlo, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Napas Rea memburu, wajahnya yang basah kini merah padam bukan karena air panas, melainkan karena gejolak emosi yang bercampur aduk. Rea segera memutar tubuhnya, memunggungi Arlo. Ia menatap dinding kamar mandi yang dingin, mencoba mengatur detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Tangannya meremas ujung gaun putihnya yang basah kuyup, sementara tubuhnya sedikit gemetar. "Rea..." suara Arlo terdengar parau, sarat dengan keinginan yang tertahan. Hening sejenak, hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh ke lantai. Rea memejamkan matanya rapat-rapat, mengumpulkan keberanian untuk bicara. "Maaf," bisik Rea, suaranya bergetar hebat. "Maaf, Arlo... aku belum bisa melakukannya." Arlo terdiam di posisinya. Ia menatap punggung Rea yang rapuh, menyadari bahwa meski ciuman tadi terasa sangat nyata, luka dan trauma
Read more