Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden, menyiram kamar dengan warna keemasan yang hangat. Rea menggeliat pelan, mencoba meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, namun ia segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ada beban berat dan hangat yang melingkar sempurna di pinggangnya, menarik tubuhnya hingga tak ada jarak sedikit pun dengan sosok di depannya. Rea hampir saja menjerit karena kaget, namun suaranya tertahan di kerongkongan. Memori semalam berputar cepat seperti kaset rusak, petir, lilin, ketakutan, dan dada bidang ini. Ia mendongak sedikit, dan di sanalah Arlo. Jarak mereka begitu dekat hingga Rea bisa merasakan hembusan napas teratur Arlo menerpa keningnya. Dalam keheningan pagi itu, Rea terpaku. Ia memperhatikan setiap inchi wajah pria yang kini statusnya bukan lagi sekadar suami wasiat di matanya. "Gimana bisa ada orang yang bangun tidur tapi wajahnya tetap kelihatan hampir sempurna begini?" batin Rea, matanya menelusuri garis rahang Arlo ya
Read more