Ibuku keluar dari dapur. Saat melihatku, matanya langsung memerah. Dia membawa semangkuk buah yang baru saja dipotong, berdiri di sana dengan canggung."Noah, kamu sudah pulang."Aku mengangguk, mengambil mangkuk buah dari tangannya. "Aku lapar, ada makanan?"Ibuku tertegun sejenak, lalu segera mengangguk kuat-kuat."Ada, ada! Ibu akan segera panaskan untukmu!" Seolah-olah mendapatkan anugerah besar, dia berbalik dan berlari masuk ke dapur.Ayahku dan Aria keluar dari ruang kerja. Ketika melihatku, ekspresi mereka juga tampak waspada."Kak ...," sapa Aria.Aku berjalan ke depan mereka, lalu menyerahkan flashdisk itu kepada ibuku."Terima kasih atas hadiahnya," kataku. "Meskipun cara penyampaiannya agak ... istimewa."Ibuku menerima flashdisk itu, tangannya gemetar."Noah, kamu ....""Aku memaafkan kalian," selaku. Bukan karena pesta itu, juga bukan karena hadiah-hadiah yang datang terlambat, melainkan karena dari rekaman kamera pengawas itu, aku melihat rasa sakit dan penyesalan mereka
อ่านเพิ่มเติม