“Hari ini kamu jadi mau pergi kan?” tanya Ibu, memastikan janji yang sudah gue buat sebelumnya.“Iya, jadi kok. Tapi, kan… belum tentu bisa ketemu juga. Apalagi ini hari libur.” Gue menghela napas, membayangkan apa yang akan terjadi nanti.“Ya, dicoba kan nggak ada salahnya. Ingat, kamu bukan menunda satu dua hari lho, tapi udah bertahun-tahun,” ucap Ibu lembut, namun menembus tepat di bagian hati yang paling gue takuti. Belum sempat gue meresapi, tiba-tiba terdengar suara sumbang yang begitu akrab memecah suasana pagi.“ANDRA! ANDRA!”Ibu langsung menoleh dan tersenyum kecil. “Nah, itu suara Abay.”Tampaknya Ibu hafal suara barongsai satu itu. “Tumben dia ke sini pagi-pagi?” lanjut beliau, heran. “Mau numpang sarapan kali,” celetuk gue asal. “Hush! Jangan gitu dong. Kamu tuh seneng banget sih ngeledekin Abay,” omel beliau, membela si beruang mata empat itu. Gue hanya terkekeh.“Andra sengaja minta Abay ke sini buat nemenin Andra, Ma,” jawab gue membuat Ibu tersenyum lega. “Bagus deh
Read more