Awan pagi itu bergerak pelan, seperti gulali yang ditarik panjang di langit biru pucat, saat private jet milik Atlas mulai menembus ketinggian. Pukul tujuh tepat ketika roda pesawat terangkat dari landasan, membawa mereka meninggalkan pulau itu—meninggalkan laut yang sempat mereka rekam, vila yang jadi tempat singgah, dan kejadian-kejadian yang entah kenapa masih terasa menggantung.Di dalam kabin, suasananya jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Lampu dibuat redup, cukup terang untuk aktivitas ringan, tapi cukup lembut untuk membuat siapa pun mudah terlelap. Kursi-kursi kulit berwarna krem tersusun rapi dengan jarak yang lega, memberikan ruang bagi setiap orang untuk bergerak tanpa saling bersenggolan. Meja kecil di samping kursi sudah diisi minuman dan camilan ringan, sebagian bahkan belum tersentuh.Beberapa kru langsung memanfaatkan waktu untuk tidur, kepala mereka bersandar ke belakang atau miring ke samping dengan posisi seadanya. Ada juga yang masih sibuk dengan po
Magbasa pa