Compartilhar

26| Predator

Autor: sidonsky
last update Data de publicação: 2026-03-13 01:50:31

Malam datang lebih cepat di pulau itu.

Setelah review terakhir untuk fasilitas couple spa selesai, suasana vila perlahan kembali tenang. Kru dan Kelly sudah kembali ke penginapan mereka masing-masing, meninggalkan area vila yang terasa jauh lebih sunyi dibandingkan siang tadi.

Aruna kini duduk di kursi santai di tepi kolam renang pribadi vila mereka. Kursi panjang untuk berjemur itu menghadap langsung ke kolam renang, dan dari tempatnya duduk ia bisa melihat garis cakrawala yang perlahan menghi
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Swipe Right for Love   42| Tempat Berpijak

    Aruna, kamu bodoh.Sumpah serapah itu berulang dalam kepalanya saat tangan lelaki itu kini berpindah, merengkuh pinggangnya tanpa izin."Mr. Danny..." suara Aruna mulai goyah, tubuhnya refleks menjauh saat jarak di antara mereka terasa terlalu sempit.Namun lelaki itu justru semakin mendekat, seolah tak peduli dengan batas yang jelas-jelas sedang Aruna coba jaga. "Ayolah," bisiknya rendah, napas berbau nikotin itu menyeruak tajam ke indera penciuman Aruna, membuat perutnya terasa mual, "kamu dengan Atlas juga karena uang, kan?"Aruna menggeleng cepat, dadanya naik turun, mencoba menahan rasa tidak nyaman yang mulai berubah jadi takut. "Enggak—""Saya jauh lebih kaya," potongnya tanpa memberi ruang, tubuhnya condong semakin dekat, menekan ruang gerak Aruna yang sudah nyaris habis. "Kamu akan jauh lebih bahagia dengan saya."Kalimat itu terasa menjijikkan."Lepas!" Aruna mendorong dada lelaki itu, kali ini dengan tenaga lebih besar, berusaha menciptakan jarak.Namun yang terjadi justru

  • Swipe Right for Love   41| Mr. Danny

    Dari awal, Aruna sudah tahu kalau ini ide bodoh.Memutuskan untuk menemui Mr. Danny sendirian demi mengulur waktu agar lelaki itu tidak buru-buru menarik investasinya dari Heartline jelas bukan keputusan yang rasional. Tapi di tengah kekacauan yang terjadi, rasanya hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk membantu. Setidaknya memberi Atlas dan timnya sedikit waktu untuk menemukan kebenaran.Namun sejak awal, firasatnya sudah tidak enak.Duduk di ruang meeting dengan layar presentasi yang sudah lima belas menit terakhir tidak benar-benar ia perhatikan, Aruna hanya mengangguk sesekali. Suara kepala divisi marketing terdengar seperti gema jauh, membahas campaign summer, konsep visual, timeline produksi—semuanya lewat begitu saja tanpa benar-benar masuk ke kepalanya. Pikirannya tertahan pada makan siang yang akan ia hadapi.Pada keputusan yang mungkin akan ia sesali."...jadi nanti Kak Aruna akan jadi main face untuk digital campaign, termasuk video pendek dan beberapa kont

  • Swipe Right for Love   40| Belum Terlambat

    Suasana ruang meeting itu dipenuhi suara ketikan keyboard yang nyaris tak terputus dan bisikan-bisikan pelan yang saling bersahutan di antara para tim. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang yang dominan, memantul di wajah-wajah yang tegang dan lelah. Semua orang fokus pada tugas masing-masing, mencoba menelusuri sesuatu yang bahkan belum memiliki bentuk pasti.Aruna duduk di antara mereka.Awalnya ia hanya berniat membantu sebisanya, namun kini ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaan itu. Di layar laptopnya, deretan data pengguna terpampang panjang—ID, email, waktu registrasi, lokasi IP, hingga riwayat aktivitas. Ia tidak sepenuhnya ahli, tapi dasar-dasar yang pernah ia pelajari cukup membantunya memahami alur.“Coba filter berdasarkan akun yang punya perubahan data berulang,” ucap salah satu tim IT di ujung meja.Aruna mengikuti arahan itu. Jemarinya bergerak pelan, menyesuaikan query sederhana di sistem internal. Ia menyaring data pengguna yang mengganti iden

  • Swipe Right for Love   39| Breaking News

    Aruna tidak pernah menyangka bahwa perasaan bisa berubah secepat ini—atau mungkin, bukan berubah, tapi justru tumbuh tanpa ia sadari. Baru tiga bulan, namun rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasnya sejak ia memutuskan mengambil jarak dari Atlas.Hari-harinya kembali seperti semula, tapi anehnya, semuanya terasa lebih sepi.Tidak ada lagi mobil hitam yang menunggu di depan rumahnya setiap pagi. Tidak ada pengawal yang berdiri dengan jarak sopan. Tidak ada pesan singkat dari seseorang yang selalu terdengar dingin tapi entah bagaimana… menenangkan.Yang tersisa hanya Kelly, Tabia, jadwal yang padat, dan dirinya sendiri.Di ruang podcast Ruang Rasa, Aruna duduk di balik meja dengan headphone terpasang, menatap layar di depannya tanpa benar-benar melihat. Lampu on air menyala merah, tanda siaran sudah berjalan, namun pikirannya seperti tertinggal di tempat lain."Sore ini… kita akan bahas tentang kehilangan," ucapnya pelan, suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak.

  • Swipe Right for Love   38| Terasa Lebih Gelap

    Sudah sejak terakhir acara makan siang itu berlangsung, Aruna memilih menjauh.Ia tidak menghubungi Atlas, tidak pula memberi kabar. Anehnya, Atlas pun melakukan hal yang sama—tidak ada pesan, tidak ada panggilan, seolah-olah mereka sepakat diam-diam untuk memberi jarak tanpa perlu dibicarakan. Di satu sisi, Aruna merasa lega. Di sisi lain, ada kekosongan aneh yang tak bisa ia abaikan, seperti sesuatu yang hilang meski ia sendiri yang memutuskan untuk melepaskannya sementara.Minggu pagi ini seharusnya ia menghadiri sebuah acara bersama Atlas, undangan formal yang sudah dijadwalkan jauh hari. Bahkan gaun yang akan ia kenakan sudah tergantung rapi di lemari. Namun ketika alarm berbunyi, Aruna hanya mematikannya dan menarik selimut lebih tinggi, menutup dirinya dari dunia luar. Ia tidak siap. Bukan untuk berpura-pura baik-baik saja di depan banyak orang, bukan untuk kembali berdiri di samping Atlas seolah tidak terjadi apa-apa.Ia butuh waktu. Setidaknya itu yang ia yakinkan pada diri

  • Swipe Right for Love   37| Wicaksono

    “Selamat menikmati.”Suara pelayan itu terdengar halus saat ia meletakkan hidangan terakhir di atas meja bundar berukuran besar yang dipenuhi aneka masakan khas Jawa. Aroma rempah hangat langsung memenuhi ruangan—dari gudeg dengan kuah santan kental, ayam opor berwarna kuning keemasan, hingga semangkuk rawon dengan kuah hitam pekat yang mengilap di bawah cahaya lampu temaram.Aruna duduk tegap di kursinya.Punggungnya lurus, kedua tangannya bertaut rapi di atas paha, seolah setiap gerakan kecil harus diperhitungkan dengan matang. Dress yang ia kenakan masih sama seperti saat menghadiri acara peluncuran parfum tadi—potongan modern dengan warna yang cukup mencolok untuk standar makan siang keluarga tradisional. Rambutnya tertata rapi, make-up-nya masih sempurna, namun ekspresi wajahnya… sedikit terlalu kaku.Di hadapannya, seorang pria paruh baya duduk dengan wibawa yang nyaris menyesakkan.Wicaksono.Rambutnya mulai memutih, tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang tampak b

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status