Share

29| Pulang

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-03-18 01:48:07

Awan pagi itu bergerak pelan, seperti gulali yang ditarik panjang di langit biru pucat, saat private jet milik Atlas mulai menembus ketinggian.

Pukul tujuh tepat ketika roda pesawat terangkat dari landasan, membawa mereka meninggalkan pulau itu—meninggalkan laut yang sempat mereka rekam, vila yang jadi tempat singgah, dan kejadian-kejadian yang entah kenapa masih terasa menggantung.

Di dalam kabin, suasananya jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Lampu dibuat redup, cukup terang un
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   152| Pagi Sempurna Aruna

    Pagi datang dengan cara yang begitu sempurna.Mata Aruna terbuka perlahan, berkedip beberapa kali sebelum lensanya berhasil menangkap bayangan lukisan di atas ranjang. Otot-ototnya serasa ditarik ke segala arah. Bahkan tangannya terasa lemas saat ia mengangkatnya untuk menyentuh wajahnya sendiri. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi sebelah matanya.Aruna menoleh ke samping.Kosong.Sisi ranjang tempat Atlas tidur sudah rapi. Hanya ada bekas lekukan kecil di kasur yang membuktikan seseorang pernah tidur di sana. Aruna menatapnya sebentar, lalu mata bergerak ke sekeliling kamar. Kimono bunganya yang terlepas semalam masih tergantung di ujung tempat tidur. Bantal yang jatuh ke lantai. Dan aroma yang samar-samar masih tertinggal di udara, membuat pipinya langsung memanas.Ia mendesah pelan, menutup wajah dengan telapak tangan sesaat, lalu memaksa dirinya bangun.Ia mencari-cari keberadaan Atlas. Melewati lorong, menyibakkan rambut dari wajahnya, matanya menyapu sekitar yang masih suny

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   151| He's Awake

    "Tapi saya mau."Ucapnya, lalu kembali menciumi Atlas. Kali ini tak memberikan waktu untuk Atlas melayangkan protesnya, bibir Aruna mendarat di dada lelaki itu, lidahnya menyapu, dan giliran Aruna yang menjilat puting Atlas.Efeknya seketika.Tubuh Atlas menegang seluruhnya, otot-otot di perutnya berkontraksi, bahunya tertarik ke belakang, dan dari atasnya, Aruna bisa mendengar hembusan napas berat yang Atlas keluarkan, napas yang seolah lupa bagaimana cara keluar secara perlahan. Tangannya masih di bahu Aruna, tapi kini berubah, bukan lagi menahan, melainkan mencengkeram. Jari-jarinya menggali ke dalam kulit gadis itu, dan itu bukan tolakan, itu adalah cengkeraman seorang lelaki yang sedang berjuang untuk tidak kehilangan akalnya.Lalu Aruna tak kehilangan akal.Tangannya turun ke bawah, melewati perut kotak-kotak Atlas yang berkontraksi di bawah sentuhannya, melewati pinggang celana yang masih tertutup, sampai akhirnya telapak tangannya mendarat tepat di atas sesuatu yang sudah kem

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   150| Tapi Saya Mau

    "Saya... belum pernah."Tiga kata itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke kolam yang tenang.Riaknya terasa seketika.Atlas berhenti. Benar-benar berhenti. Tangannya tak bergerak lagi, tubuhnya tak menekan lagi, dan matanya yang tadinya gelap dan lapar kini berubah perlahan menjadi lebih lembut, menjadi sesuatu yang Aruna tak pernah lihat di mata lelaki itu sebelumnya. Bukan keinginan, bukan kesabaran, bukan kemenangan, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu semua.Ia menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya di kening Aruna, dan napasnya yang tadinya berat dan rakus kini lebih lambat, lebih teratur, seolah ia sedang menenangkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan Aruna."Baik." bisiknya, dan satu kata itu tak menyimpan kekecewaan, tak menyimpan tekanan, hanya penerimaan yang murni.Tangannya bergerak, bukan ke bawah, melainkan ke atas. Menarik kembali sisi-sisi kimono Aruna, menutupinya dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk tangan yang baru saja meremas

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   149| Berhenti

    "Bukannya kamu bilang, kamu merindukan saya?"Dan bisikan itu menjadi pemicu.Bulu kuduk Aruna berdiri seketika dan otaknya yang sudah berantakan mencari jalan keluar, mencari alasan, mencari apa pun yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini."Kalau gitu... Pak Atlas... bersih-bersih dulu... aja." katanya terputus-putus, suaranya nyaris bergetar, dan kembali berniat beranjak dari sana.Namun sekali lagi, tangan Atlas menahan.Bahkan dengan sekali tarikan, tubuh Aruna berbalik sepenuhnya, kini menghadap lelaki itu, dan matanya otomatis menatap turun.Ke arah badan kokoh dengan perut kotak-kotak itu."Saya tidak menempuh perjalanan empat ribu mil," bisik Atlas rendah, matanya menangkap pandangan Aruna dan tak membiarkannya kabur, "hanya untuk membiarkan kamu pergi."Mata Aruna membulat.Belum sempat ia mengatakan apa-apa, bibirnya sudah ditempelkan oleh bibir lelaki itu.Lumatannya datang tanpa aba-aba, tanpa ruang untuk bernapas. Atlas mencium Aruna dengan lapar yang tertahan terlalu

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   148| Kyoto dan Hangatnya

    Aruna merebahkan dirinya di atas ranjang besar itu setelah selesai membersihkan dirinya.Ofuro tadi menjadi penyelamat, air panas yang merendam tubuhnya hampir setengah jam, melarutkan lelah, pegal, dan sisa-sisa makeup yang tak terangkat oleh cleanser. Kini, dengan rambut yang setengah basah dan kimono krem bermotif sakura yang melekat longgar di tubuhnya, Aruna merebahkan dirinya dengan hati yang akhirnya bisa bernapas.Langit-langit kayu di atasnya masih sama. Seni lukisan tradisional yang menghiasi setiap sudut ruangan masih sama. Tapi malam ini, segalanya terasa lebih tenang, mungkin karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk memikirkan apa pun, atau mungkin karena panggilan telepon itu.See you.See you apa?Aruna menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran itu.Besok masih harus menjalani hari terakhir sebelum ia bisa beristirahat di hari ketiga. Interview lanjutan, fitting akhir, dan satu dua meeting minor yang tak bisa ditunda. Setelah itu, ia bebas.Aruna mengambil ponselnya da

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   147| Panggilan Malam

    Sudah seharian ini Aruna sibuk.Dari pagi buta hingga sore ini, ketika matahari mulai menurun dan langit berubah menjadi kanvas oranye keunguan, Aruna tak punya satu detik pun untuk bernapas.Interview dengan majalah ternama Jepang dimulai jam delapan tepat, di sebuah studio yang disewa khusus di pusat kota Kyoto. Aruna duduk di atas kursi bergaya mid-century yang diposisikan di tengah set bergaya minimalis Jepang, lampu-lampu softbox mengelilinginya seperti matahari buatan, dan di hadapannya, seorang pewawancara wanita berambut bob hitam menatapnya dengan mata yang penuh antusias.Pertanyaan-pertanyaan standar mengalir, soal karier, soal fashion trend tahun ini, soal inspirasi, hingga pewawancara itu menyandarkan dagu di atas tangannya, tersenyum lebih lebar, dan menanyakan sesuatu yang membuat nada suaranya turun menjadi lebih intimate."We all know that you are already engaged with Mr. Atlas Wicaksono," ucapnya, alisnya sedikit terangkat, "and as you know, your fiancé is one of the

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   12| Penyusup

    Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status