Share

30| Azalea

last update publish date: 18.03.2026 02:53:47

Sudah dua hari sejak kepulangan mereka dari Heartline Haven Resort.

Namun rasanya, suasana pulau itu masih tertinggal samar di kepala Aruna—angin laut, suara ombak, dan… seseorang yang kini justru tidak ada di dekatnya.

Ballroom hotel malam itu dipenuhi cahaya yang terlalu terang untuk sekadar acara pembukaan. Lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit, memantulkan kilau ke setiap sudut ruangan, berpadu dengan dekorasi bernuansa emas dan putih yang sengaja dipilih untuk menegaskan kesan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Swipe Right for Love   36| Dimulai

    Sejak pagi, Aruna sudah tidak bisa diam.Kakinya bergerak gelisah bahkan saat ia masih duduk di depan meja rias, membiarkan kuas demi kuas menyentuh wajahnya. Tabia beberapa kali menegur pelan, meminta Aruna untuk tidak terlalu banyak bergerak karena eyeliner-nya hampir melenceng, namun yang ditanggapi Aruna hanya anggukan kecil tanpa benar-benar menghentikan kebiasaannya mengayun kaki.Perasaannya tidak tenang, dan itu terlihat jelas.Dari proses make-up, hair do, hingga kini ia sudah berada di acara peluncuran parfum milik salah satu juniornya di dunia beauty influencer, kegelisahan itu tidak juga berkurang. Ballroom tempat acara berlangsung dipenuhi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya hangat, berpadu dengan dekorasi bunga putih dan blush pink yang tersusun rapi di setiap sudut ruangan. Musik lembut mengalun sebagai latar, sementara para tamu undangan duduk menghadap panggung utama dengan perhatian penuh.Aruna duduk di salah satu kursi barisan depan, tubuhnya tegak namun

  • Swipe Right for Love   35| Makan Malam

    Aruna berdiri di lobi dengan satu tangan menyilang di depan tubuhnya, sementara tangan lainnya memegang clutch kecil berwarna senada dengan dress yang ia kenakan. Gaun maroon itu jatuh pas di atas lutut, memeluk tubuhnya dengan rapi tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya ia ikat satu, lalu dipilin sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya. Make up-nya tipis, cukup untuk menonjolkan garis matanya yang tajam dan bibirnya yang berwarna nude.Mobil Atlas sudah menjemputnya sejak lima belas menit lalu, tapi lelaki itu tidak ada di dalam. Seperti yang ia duga, Atlas langsung menuju restoran dari kantor. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan entah kenapa, hal itu justru membuat Aruna sedikit lebih lega.Setidaknya ia punya waktu untuk menenangkan diri sebelum bertemu mereka.Restoran yang dipilih Agasa berdiri megah di tengah kawasan elit kota. Begitu Aruna melangkah masuk, aroma lembut dari bunga segar dan kayu mahal langsung menyambut. Interiornya didomi

  • Swipe Right for Love   34| Tidak Setengah-Setengah

    Rekaman selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Suara terakhir Aruna yang lembut dan profesional masih menggema samar di kepalanya, bahkan setelah headphone dilepas dan pintu ruang kedap suara itu terbuka kembali. Ia melangkah keluar dengan napas yang sedikit lebih ringan, meskipun pikirannya belum benar-benar tenang. Beberapa kru sudah mulai membereskan peralatan, sementara yang lain sibuk berbincang di sudut ruangan. Di tengah suasana itu, Atlas masih berdiri di dekat meja kontrol, berbicara singkat dengan Alvi sebelum akhirnya menoleh ketika Aruna mendekat.“Maaf saya datang tanpa memberi kabar sebelumnya,” ucapnya tanpa basa-basi. Nada suaranya datar seperti biasa, tapi entah kenapa kali ini terdengar lebih tertahan.Aruna menggeleng kecil, berusaha menanggapinya senormal mungkin. “It’s okay,” jawabnya ringan. Ia sempat terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu, sebelum akhirnya melanjutkan, “Oh iya… tentang makan sama Agasa dan Azalea. Sebenarnya kita nggak perlu benar-ben

  • Swipe Right for Love   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang boleh ia biarkan tumbuh.Semua itu hanya kesepakatan, sebuah sandiwara yang mereka mainkan dengan terlalu meyakinkan, sampai-sampai ia sendiri hampir lupa batasnya.Pagi itu, ia berdiri di tengah sebuah studio besar milik brand pakaian yang sedang bekerja sama dengannya. Suasana di dalamnya begitu hidup—lampu sorot menyala terang, kru berlalu-lalang membawa peralatan, suara kamera yang berkedip, dan instruksi fotografer yang terdengar tegas namun santai.Di sudut lain, seorang model pria asing dengan tinggi menjulang dan fitur wajah tegas tengah berpose di depan kamera. Rambut pirangnya ditata rapi, rahangnya tegas, dan setiap gerakan yang ia lakukan terlihat begitu profesional.Aruna sendiri ma

  • Swipe Right for Love   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. Aruna sudah berada di sana sejak lima belas menit lalu, menunggu dengan jantung yang entah kenapa berdegup lebih cepat dari biasanya.Ia tidak memberi kabar.Tidak memberi peringatan.Hanya… datang.Sebuah ide impulsif yang semalam terasa manis, tapi kini, saat ia benar-benar berdiri di sini, menunggu lelaki itu keluar dari jet pribadinya. Rasanya, ada sesuatu yang salah meski bergerak mundur bukan lagi sebuah pilihan.Pintu jet terbuka.Tangga diturunkan.Dan beberapa detik kemudian, sosok Atlas muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja putih yang rapi, jas gelap tersampir sempurna di tubuhnya, dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya, membuat ekspresinya sulit dibaca.Dengan la

  • Swipe Right for Love   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenapa terasa pas dengan konsep podcast hari ini.Di dalam ruangan kedap suara itu, Aruna duduk tegak di kursinya. Headphone menutup kedua telinganya, mikrofon berdiri kokoh di hadapannya, sementara layar tablet di tangannya menampilkan naskah yang sudah ia hafal hampir di luar kepala. “Selamat sore menjelang malam, pendengar Ruang Rasa,” ucapnya lembut, senyum tipis terlukis di wajahnya meski tak ada yang benar-benar melihat. “Semoga hari kalian berjalan dengan baik, atau setidaknya… cukup untuk dilalui.”Di balik kaca, beberapa kru memperhatikan dengan fokus. Lampu “ON AIR” menyala merah, menandakan siaran sedang berlangsung.Aruna menggulir layar tabletnya dengan santai, melanjutkan segmen se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status